Seandainya

 Seandainya negara tidak berkompetisi dengan rakyatnya dalam menumpuk uang  yang akan digunakan  untuk membayar hutang dan syahwat politik mereka  tentu mereka tidak akan kehabisan  cara untuk memakmurkan masyarakatnya.

Mereka akan permudah berbagai hal agar masyarakat menjadi ringan. Sehingga masyarakat menjadi makmur. Bukan berlaku sebaliknya dan hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri dan golongannya mengorbankan kepentingan masyarakat yang lain.

Menurunkan pajak, merendahkan suku bunga pinjaman, meringankan UKT, merestrukturisasi hutang yang macet, melakukan  semua kebijakan yang membuat masyarakat semakin ringan bukan sebaliknya.

Tidak melakukan hal-hal yang merugikan dan menyusahkan masyarakat seperti penggusuran paksa, tidak memberikan kompensasi yang layak apalagi menguntungkan atau mengambil hak atau menyabotase  tanah mereka atau mengurangi hak-hak mereka, membebani mereka dengan kewajiban-kewajiban di luar kemampuan mereka,  menyusahkan usaha mereka, mengurangi  dan mempersulit akses lapangan pekerjaan sedangkan banyak yang membutuhkan pekerjaan. Mengurangi angka pengangguran bukan sebaliknya. Menyejahterakan  dan bukan sebaliknya. Tidak menyukai semua hal yang berkaitan dengan pemiskinan,  pembodohan,  kezaliman, over rule dan over burden. 

Mengapa saat negara mengatasi masalah selalu ada masyakarat yang kesusahan? Seperti issue mengenai air mineral yang menjadi kambing hitam atas ketidakmampuan pemerintah menyejahterakan masyarakat menengah mereka.  Pemerintah yang menambah beban mereka tetapi justru mereka yang berusaha mencari nafkah bagi keluarga yang menjadi kambing hitamnya. Pemerintah dan sebagian masyarakat kita memang seringkali bersikap kejam terhadap sebagian masyarakat lainnya yang akan dirugikan atau disusahkan.  Itu artinya akan ada sejumlah orang kehilangan pekerjaan mereka. Dan dimiskinkan atas pengambinghitaman ini. 

Melayani masyakarat seharusnya tidak membuat masyarakat lain menjadi kesusahan apalagi menjadi menambah angka kemiskinan.

Harusnya pemerintah  paham bahwa masyarakat hanya bisa menjadi lebih makmur jika beban mereka diringankan bukan ditambah. Urusan mereka dipermudah bukan sebaliknya.

Seandainya, pemerintah benar-benar memahami dan memperhatikan masyarakat tentu keadaan tidak akan menjadi problematik. 

Pemerintah akan menahan diri dari membuat kebijakan-kebijakan yang akan menyusahkan masyarakat mereka sendiri. Akan mengatur semua urusan mereka dan masyarakat dengan baik sehingga tidak saling tumpang tindih.

Seandainya cinta negara pada masyarakatnya benar sudah pasti mereka akan bahagia, tentram, aman dan sejahtera. Tapi saat makna cinta ini salah saat mengejanya maka jangan heran jika dimana-mana masalah dan juga musibah. Bukannya kitab suci sudah mengatakan bahwa musibah akibat kesalahan manusia sendiri?

Jadi lah pemerintah yang tulus. Yang benar-benar bahagia melihat masyarakatnya bahagia, aman, tentram serta sejahtera dan jangan menjadi pemerintah yang bulus yang selalu mencari-cari kesempatan di dalam kesempitan serta menari-nari di atas penderitaan masyarakatnya.

Jadilah seorang pelindung bukan maling. Bersikap  ksatria. Buka hati untuk berempati. Buka pikiran untuk bersikap lebih terbuka terutama untuk hal yang positif bukan negatif. Berpikir luas, terbuka serta bijaksana. Hindari kekakuan karena seringkali menjadi sumber masalah. Pelajari masalah dari akarnya bukan dari luarnya. Berpikir, menimbang dan bertindak jangan gegabah selalu berpikir mengenai dampaknya. 

When you overcome the problem make sure you are doing right and done. Not make another problem for anyone else. More over sacrifice them for your own good and benefit.  Don't dance on others misery and don't make it as a habit. If you didnt want to lose your heart, inner voice and humanity.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

SDM