Riba
Topik menarik dan sekaligus mengundang paradox. Dibenci sekaligus dirindukan. Dibuang tetapi juga dipungut. Dilematis. Kompleks. Problematik. Kontroversial. Teman diskusi virtual saya memaksa saya untuk berpikir mengenai hal ini. Sebagaimana sebagai penganut muslim tentu saja tidak diragukan bagaimana kitab suci berusaha untuk melindungi pemeluknya dari segala marabahaya, musibah, kerusakan dan kehancuran. Flashback menilik penjelasan hadist. Jaman nabi pun riba nasiah masih dilakukan. Mungkin hal itu merupakan kebutuhan yang seringkali tidak dapat ditunda. Namanya juga manusia. Hampir tidak mungkin tanpa hajat dan kebutuhan. Itu pun disertai intaian hawa nafsu. Jika Rasulullah berlaku arogan bukan tidak mungkin hal itu dilarang secara mutlak untuk semuanya tanpa terkecuali. Baik yang mengimani mau pun yang tidak menyakini. Tetapi seperti cik mehong bilang. Dagangannya bagi yang mau-mau aja. Begitu juga berjual beli dengan Allah. Bagi yang mau-mau aja. Yang gak mau gak ada y...