Go to school

 Pendidikan adalah merupakan investasi sumber daya manusia. Pendidikan memang tidak menjamin apakah seseorang memperoleh pekerjaan, kesuksesan dan kaya raya.

Mengisi insight manusia serta mengasahnya salah satunya melalui pendidikan. Sayangnya, tidak semua orang mampu mengusahakan pendidikan untuk keluarga mereka.

Sama halnya, tidak semua orang bisa mengusahakan kesehatan bagi keluarga mereka. Merupakan sesuatu yang luxury sedangkan di sisi lain hal itu merupakan kebutuhan yang sifatnya dasar.

Pendidikan di Indonesia memiliki tantangan yang tidak mudah dan sedikit. Selain budget, ketersediaan serta kualitas pendidikan serta lingkungan itu sendiri. Menjadi problematik.

Keluhan sebagian orang tua anak mereka tidak tertampung di sekolah-sekolah yang menjadi incaran mereka. Persaingan tidak sehat untuk mendapatkan bangku. Mulai dari manipulasi domisili sampai dengan jual beli bangku itu sendiri. Ketidakmampuan orang tua membiayai pendidikan anak mereka. Anak-anak bermasalah yang lebih suka membolos, tawuran  serta bergaul bebas dan melakukan perbuatan yang tidak ada hubungannya dengan aktifitas pendidikan itu sendiri.

Ada hal yang menarik seputar pemilihan sekolah yang seringkali tidak lepas dari campur tangan orang tua. Ada anak yang ingin masuk SMK tetapi orang tuanya meragukan pilihan sang anak dan memaksanya mengikuti keinginan orang tuanya. Masalah muncul saat si anak tidak merasa nyaman dengan pilihan orang tuanya tersebut ditambah kebingungan saat si anak harus memilih jurusan kuliahnya. Apalagi jika si anak sudah merencanakan untuk langsung bekerja setelah menyelesaikan pendidikan SMKnya sedangkan orang tua ingin yang bersangkutan melanjutkan kuliah. Atau sebaliknya.

Hal menarik lagi ditemukan bahwa tidak selamanya anak-anak yang cerdas berasal dari keluarga tidak mampu bisa melanjutkan pendidikan apalagi kalau sudah berhadapan dengan masalah biaya yang diluar jangkauan orang tua mereka. Banyak juga yang memilih mengubur mimpinya dan bekerja membantu orang tua mereka. Menopang perekonomian keluarga mereka.

Mereka yang meninggalkan pendidikan dan memilih berkecimpung di dunia kerja dan usaha karena masalah ekonomi. Ber agumen jika mereka mendapatkan bantuan yang non sustainable. Mungkin itu hanya bisa untuk menopang pendidikan mereka sementara waktu hanya selama bantuan itu ada dan seterusnya tetap saja mereka harus mengupayakan sendiri. Dan jika mereka tidak mampu mengatasi kendala biaya ini maka pendidikan mereka tetap akan kandas pada akhirnya. Dan itu yang mendorong mereka untuk mengubur mimpi mereka dibandingkan mengejarnya karena keterbatasan kondisi.

Di tengah kompleksitas permasalahan ini. Kemungkinan dibuatnya beragam alternatif akan memudahkan setiap orang bisa mengakses pendidikan sesuai dengan kemampuan mereka.

Bagi yang harus bekerja membantu orang tua mereka tetapi memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan mereka mungkin bisa dilanjutkan secara online atau terbuka atau mengambil kelas karyawan.

Atau menambah insight mereka melalui belajar secara otodidak. Mengikuti komunitas disela kesibukan mereka bekerja dan usaha. Bahkan mungkin ini bisa menjadi fun learning karena jika di sekolah mereka harus belajar semua pelajaran. Dengan belajar otodidak mereka bisa mempelajari apa pun yang mereka suka.

Selama pendidikan tidak ditempatkan sebagai ambisi atau gengsi. Maka setiap orang bisa mengupayakan pendidikan bagi diri mereka sendiri. Apakah melalui buku, internet, komunitas, kursus singkat, pembelajaran online, perkuliahan terbuka dan kelas karyawan.

Pembelajaran dari masa lalu adalah banyaknya bangku terbuang karena keinginan yang tidak realistis. Menekuni pendidikan sedangkan kesibukannya dalam meniti karir dan pekerjaan sangat tinggi sehingga akhirnya bangku yang seharusnya diisi oleh mereka yang bisa fokus dan konsentrasi dalam menjalaninya hingga akhir diberikan pada mereka yang tidak mampu menyelesaikan dikarenakan keterbatasan kondisi terutama karena waktu yang tidak memungkinkan bagi mereka mengikuti pendidikan reguler. 

Ambisi orang tua tidak selalu benar apalagi kalau terbukti anak tidak dapat menjalani pilihan orang tua sehingga orang tua harus menurunkan egonya. 

Pendampingan bimbingan karir dibutuhkan terutama saat yang bersangkutan bingung memilih bidang yang akan dipilih dan ditekuni. Terutama anak-anak yang memiliki multitalenta dan mereka dihadapkan pada pembatasan kondisi. Mungkin bisa disiasati memiliki lebih dari satu bidang yang ditekuni selama mereka konsisten menjalaninya. 

Membagi minat-minat tersebut menjadi pilihan pekerjaan, karir, hobi, me time, dll.

Orang tua juga lebih terbuka mengenai kondisi anak. Jika tidak anak akan kurang terfasilitasi dalam hal pemenuhan kebutuhan pendidikan. 

Tidak selalu sekolah favorite itu cocok untuk semua anak. Seorang ibu men-share kisahnya tentang anaknya yang terpaksa harus pindah sekolah karena merasa tidak nyaman di sekolah yang dipilihnya. Disharmonisasi dengan guru dan lingkungan sekolah penyebabnya. Pindah sekolah ke sekolah yang dianggap bermasalah tetapi ternyata sang anak bisa menjadi lebih bertanggung jawab dan diterima lingkungan sekolahnya. Guru dan lingkungan sekolahnya bisa menerimanya dengan baik. Teratasi masalah disharmonisasi yang dialami di sekolah sebelumnya.

Kecocokan anak dengan lingkungan sekolah dan pendidikan ini sangat penting. Jika anak nyaman dengan lingkungan sekolahnya. Mereka akan menyukai sekolah serta diterima lingkungan sekolahnya dengan baik. Banyak hal-hal positif yang mereka dapatkan. Kemungkinan hal-hal negatif seperti membolos, tawuran dan bad influence lainnya bisa diatasi dengan sendirinya. Karena anak menyukai aktifitas sekolah dan belajarnya serta tidak memiliki waktu untuk mengeksplorasi sisi negatif di dalam dirinya.

Kenyamanan adalah kuncinya. Fokus bisa didapatkan dari sesuatu yang dilakukan secara berulang dikarenakan hal itu memberikan kesenangan dan rasa nyaman.

Kebutuhan serta kenyamanan setiap anak tidak lah sama. Selama hal tersebut tidak dijadikan bahan kompetisi, gengsi, ambisi dan hal tidak realistis lainnya. Seharusnya, setiap orang bisa mengakses pendidikan buat mereka sendiri sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.

Kenali kebutuhan dan kenyamanan maka akan terdapat beragam alternatif yang bisa ditempuh. Jika hanya berorientasi pada ambisi, gengsi dan kompetisi. Maka tidak ada solusi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM