Makan Siang Gratis

 Program dilematis yang banyak dibahas masyarakat Indonesia. Bukan karena meragukan manfaatnya tetapi dampak dan implikasinya dikarenakan setiap keputusan ada konsekuensi yang harus dijalani.

Problematik membuat sesuatu seringkali menimbulkan efek domino dan tidak terduga. Apalagi seringkali implikasi dan dampak tidak bisa diajak kompromi.

Tentu saja menjadi sesuatu yang wajar jika hal itu menjadi kontroversi. Siapa yang mau dibebani masalah lagi?

Di tengah badai PHK. Kelangkaan produksi dalam negeri memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri sendiri menghantui. Serangan import terutama import ilegal. Problematik dunia pendidikan. Kredit macet. Perbankan bermasalah. Sejumlah masalah yang seperti mengidap NPD memamerkan wajahnya dan bergantian mendominasi.

Budget makan siang pun makin tidak logis di tengah inflasi yang menyapa negeri ini. BBM saja masih perlu disubsidi. Banyak hal mesti diperbaiki. Hutang negara dikurangi bukan ditambahi. Banyak hal lebih butuh dikritisi dibanding dicari solusi. Plus intropeksi. 

India itu negara yang memiliki program makan siang gratis dan juga hutang negara yang paling tinggi. Sepertinya, kita sedang berkompetisi dan mengejar ambisi menyaingi India yang berhasil meraih posisi tertinggi dalam hal menumpuk hutang negara.

Jika kita tidak mendukung program ini seperti orang yang tidak memiliki empati. Tak mampu mengkritisi maupun intropeksi. Apalagi mencari solusi.

Saat zonasi diputuskan mengganti PPDB berapa banyak pihak yang menyesali? Walaupun sistem kerap diganti. Wajah manipulasi seperti  pengidap NPD memaksa  bermunculan silih berganti. Mungkin kita bisa belajar dari sini. Sebagai bahan evaluasi. Mungkin bisa menjadi inspirasi dalam mencari solusi.

Pertanyaan kita semua cuma satu. Apakah makan siang gratis solusi atau problematik?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM