Negeri Para Pendengki
Al kisah di negeri para pendengki
mereka kebingungan menerjemahkan antara
toleransi, kebebasan pribadi, kedamaian, kemakmuran dan keadilan
"Aku lebih baik dan pintar darinya."
"Aku lebih rupawan juga dermawan?"
"Aku lebih baik hati dan juga tidak sombong?"
"Aku lebih beragama."
"Aku papa yang bersabar."
"Aku lebih baik..."
Masing-masing saling mengakui kelebihan masing-masing
dan mempertanyakan kekurangan dan kelemahan
orang-orang yang mereka yakini
memiliki manipulasi terhadap
garis takdir
Di negeri ini juga
kebenaran itu bukan absolut apalagi esensi
tapi harus memperoleh cap legitimasi
dari mereka yang dipercaya memiliki
kemampuan untuk itu
Mereka lupa bagaimana Galileo dan juga
Qabil dibunuh

Komentar
Posting Komentar