Dirty

Hand, Fingers, Skin, Texture, Person, Dirty, Touch

Mengapa mereka yang jahat dan buruk selalu menang? Its simpel answer karena yang tahan berbuat jahat dan buruk hanya mereka yang memang memiliki karakter demikian sehingga sudah pasti kemenangan akan mereka raih karena hanya mereka yang mampu menghalalkan segala cara.
Untuk berbohong, memfitnah, menipu, mencuri dan melakukan hal-hal yang jelek tentu dibutuhkan karakter yang jelek juga sebagaimana tidak mungkin karakter yang baik mau memutarbalikan fakta, memihak pada yang salah, berkata bohong, mencuri apalagi memfitnah.
Kalau yang masih sehat akal dan nuraninya pasti tidak peduli kepada siapa tetapi apa. Perbuatan bukan orangnya.
Kekacauan yang terjadi itu karena selama ini perbuatan-perbuatan buruk itu terpendam dan sekarang naik ke permukaan dan tetap saja kalau minyak dan air tidak akan menyatu sehingga tidak mungkin karakter yang buruk bisa bercampur dengan yang baik setidaknya mereka tidak mungkin melakukan hal-hal yang buruk dan jahat sebagaimana mereka yang buruk dan jahat tidak mungkin melakukan hal yang baik dan benar.
Jadi tidak mungkin nyambung kalau ada orang minta dibenarkan hanya karena mereka lebih berkuasa, banyak, tertindas atau sedikit karena yang jadi ukuran benar salah itu bukan jumlah atau kelompok tetapi memang perbuatannya.
Kalau kita lihat orang pake atribut PKI salah tidak? Udah pasti salah dan gak mungkin yang sehat akal dan nuraninya akan melakukan itu apalagi kalau tahu sejarahnya di Indonesia sudah pasti karakternya buruk dan merem aja udah liatnya karena trouble maker itu ya memang begitu.
Mereka yang menyalhgunakan azan ya sama lah. Kalau yang bener akhlak dan karakternya mana mungkin mau melakukan hal yang mengganggu dan menyakiti orang lain tapi kalau memang karakter mereka buruk sama aja dengan PKI gila pasti cari alasan dan drama mulai kok suara azannya kecil trus nanti yang buta bagaimana?
Cuma setan yang tidak suka azan padahal semua tahu tidak ada yang bermaksud melarang azan bahkan kritik yang disampaikan juga jelas yang mana yang dikoreksi dan tidak tetapi itu lah kalau terlahir trouble maker sama kedudukannya kayak virus dbd, mmr dan berbahaya lainnya.
Mereka yang membenturkan hijab dan non hijab udah pasti sama sintingnya dan tidak perlu diutak utik dan dicari sintingan mana. Sama ya sama cuma sisinya aja yang beda ibarat ilmu sihir tidak ada yang putih dan hitam dua-duanya sama-sama sihir.
Begitu juga intoleran itu tidak dilihat dari satu sisi aja tetapi ya itu tadi perbuatannya langsung aja dan mereka pasti pembuat masalah dan kalau salah satu menang tidak ada bedanya karena sama-sama gila memaksakan kehendak dari sisi masing-masing dan merasa sama baik dan hebatnya. Probelm solver? Kalau bisanya bikin masalah jangan harap bisa menyelesaikan masalah. Bukan bidangnya keleus...Alergi sama solusi dan exausted with fighting and everything sinting kriting...
Kalau yang masih sehat pasti jelas mana yang benar dan salah tapi kalau memang sudah bermasalah kalau istilah qur'annya memiliki penyakit hati ya pasti apa aja juga masalah.
Dalam teks selalu dikenalkan berbagai kondisi untuk masalah yang sama.
Dua teks tentang ketertiban umum dan sama-sama khalifah umar yang satu tentang yahudi miskin yang mau digusur dan yang satu penduduk mekah.
Keduanya memiliki konsekuensi yang berbeda karena perbedaan kondisi. Yang satu mengetest khalifah dan meragukan keadilan khalifah karena kondisinya yang minoritas dan papa sedangkan yang satu tidak ada keraguan tentang hal itu tetapi mereka tidak memiliki keterbukaan pikiran walaupun mereka mayoritas dan tidak papa tetapi mereka arogan dan tidak mau mendukung kepentingan umum sehingga sikap khalifah juga jelas berbeda karena semua berdasarkan timbangan kondisinya tetapi keduanya sama-sama berbicara mengenai sikap yang seharusnya dimiliki dalam hal ketertiban umum apakah sebagai minoritas maupun mayoritas. Papa atau tidak semua wajib mendukung kepentingan umum.
Cara bisa saja berbeda menyesuaikan dengan karakter masing-masing orang. Ada yang perlu diberi waktu untuk membujuk hati dan keridhoannya dan ada yang memang tidak bisa diberi pilihan karena arogan, narrow minded dan egoisnya.
Sehingga untuk kasus yang berkaitan dengan kepentingan umum memang mereka diberikan tahapan tetapi jika mereka tetap mengingkari dan tidak mau mematuhi maka tetap dilakukan apa yang memang terbaik untuk kepentingan umum dan yang menjadi hak mereka ganti rugi dititipkan ke pengadilan. Itulah yang dicontohkan ketika menghadapi permasalahan ketertiban umum.
Cara persuasif adalah yang pertama dilakukan dan jika ini bisa berhasil dengan baik maka tidak perlu menggusur paksa dan menitipkan ganti rugi mereka di pengadilan tetapi jika dengan cara persuasif gagal maka terpaksa tetap dilakukan penggusuran karena memang pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menyelenggarakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.
Kepentingan umum ini akan berdampak luas dibandingkan dengan kepentingan pribadi sehingga memang seringkali pemimpin harus mengetahui batas logisnya ketika mereka mengambil kebijakan yang akan langsung berdampak pada masyarakat mereka secara keseluruhan.
Kesadaran kepentingan umum di Indonesia sangat rendah dan hal ini yang seringkali menimbulkan masalah dan berujung fitnah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM