Efisiensi

Efisiensi dilakukan untuk memaksimalkan satu kondisi agar bisa berlaku optimum dan proposional.
Bukan efisiensi kalau mengejar harga murah tapi beracun. Murah tapi rusak lingkungan atau pegawai underpaid.
Efisiensi itu mengalihkan penumpukan ke hal-hal yang lebih bermanfaat.
Contoh jika selama ini jabatan jadi rebutan karena mereka menyerupai mesin uang bagi pribadi dan atau golongan serta tidak semua kepentingan golongan untuk kepentingan masyarakat sedangkan kepentingan pemerintah sudah pasti untuk kepentingan masyarakat.
Untuk pribadi seharusnya kan mereka dapat sumber penghasilan dari gaji, tunjangan atau bonus kalau mereka bekerja.
Laba kalau mereka berusaha sedangkan golongan harusnya mereka punya semacam layanan masyarakat atau sponsorship yang halal dan tidak mengganggu hak masyarakat. Mereka bisa bekerja sama dengan yayasan, donatur atau csr atau mandiri dengan menyediakan layanan murah terjangkau untuk masyarakat dan sisa profitnya bisa digunakan untuk kepentingan mereka sendiri.
Misalnya mendirikan yayasan pendidikan, yayasan kesehatan, yayasan pelayanan masyarakat, yayasan bantuan bencana alam, yayasan bantuan sosial, yayasan rumah singgah. yayasan kemandirian.
Tergantung minat mereka dimana.
Mereka bisa ikut aktif menyediakan layanan untuk masyarakat sehingga mereka juga terbiasa melayani kepentingan masyarakat sehingga kalau ada kader mereka yang terpilih mindsetnya sudah sama dan efisien langsung ngurusin kepentingan masyarakat.
Yayasan ini ada yang memiliki usaha profit dan non profit sehingga bebas mereka gunakan untuk program-program mereka sendiri bahkan kalau kehadiran mereka memang bisa meringankan masyarakat pemerintah bisa memberikan bantuan yang langsung disalurkan pada mereka yang membutuhkan atau membantu meringankan tugas sosial pemerintahan.
Efisiensi juga bisa menekan biaya sehingga bisa lebih terjangkau buat masyarakat karena diatur berdasarkan preferensi.
Tidak hanya biaya tetapi juga mutu pelayanan.
Misal pelayanan halal mui yang dikeluhkan sangat mahal kemungkinan ada inefisiensi di dalamnya. Dan inefisiensi itu yang dihilangkan dan dialihkan ke kualitas dan kuantitas pelayanan sehingga makin banyak yang bisa menerima layanan itu dengan harga yang terjangkau.
Terus terang dengan beban biaya 5 juta rupiah untuk pengurusan label halal memang sangat mahal sedangkan masyarakat membutuhkan label tersebut untuk kenyamanan konsumsi mereka.
Dimana letak mahalnya apakah tidak dilakukan secara kolektif atau memang ada hal-hal yang membuat hal itu tidak menjadi efisien karena sampel dikirim langsung dari pemohon.
Kalau harus dengan pengecekan langsung ke lapangan kemungkinan kalau instansi itu bagus mereka pasti udah punya sistem layanan yang baik apakah mereka memiliki kendaraan operasional atau menetapkan tunjangan khusus bagi pegawai lapangan mereka sehingga bisa lebih maksimal melayani masyarakat dan tentu saja dengan evaluasi karena jangan sampe tunjangan operasional udah dikasih mereka gak kasih standart pelayanan yang udah diberikan pada mereka dan uang mereka kantongin sendiri dan layanan udah dipastikan tetap aja mahal dan buruk sehingga mencari pegawai yang memang menjiwai pekerjaannya terbaik kemungkinan kinestetis dan tidak betah bekerja di kantor. Mobile. Teliti dan efisien. Jangan sampe mondar mandir gak jelas. Udah boros hasil gak maksimal.
Kalau harus dengan pengecekan langsung ke lapangan kemungkinan kalau instansi itu bagus mereka pasti udah punya sistem layanan yang baik apakah mereka memiliki kendaraan operasional atau menetapkan tunjangan khusus bagi pegawai lapangan mereka sehingga bisa lebih maksimal melayani masyarakat dan tentu saja dengan evaluasi karena jangan sampe tunjangan operasional udah dikasih mereka gak kasih standart pelayanan yang udah diberikan pada mereka dan uang mereka kantongin sendiri dan layanan udah dipastikan tetap aja mahal dan buruk sehingga mencari pegawai yang memang menjiwai pekerjaannya terbaik kemungkinan kinestetis dan tidak betah bekerja di kantor. Mobile. Teliti dan efisien. Jangan sampe mondar mandir gak jelas. Udah boros hasil gak maksimal.
Misal mau melayani 10 calon penyandang label mui dan harusnya kan udah proaktif menghubungi pro wa atau email apa aja yang mesti mereka siapin dan itu juga dipilih yang rutenya sejalan.
Jadi masuk 100 aplikasi.
Dikelompokin dulu kan dimana aja tempat usaha mereka berada dan ditemukan di A 50, B 30, C 15 dan D 10.
Dikelompokin dulu kan dimana aja tempat usaha mereka berada dan ditemukan di A 50, B 30, C 15 dan D 10.
A ini kan kemungkinan displit karena hampir gak mungkin satu orang nyelesein 50 aplikasi kecuali turunan langsung superman atau spiderman.
Instansi udah punya itu daftar pegawainya mulai yang excellent sampe yang biasa-biasa aja. Dan itu diliat dari hasil kerjanya.
Udah pasti yang excellent ini dikasih paling banyak dan juga gak usah iri kalau tunjangan dan bonusnya juga beda karena memang daya serap dan efisiensinya memang lebih tinggi sehingga wajar aja mereka diberi lebih karena mereka memberi lebih tapi kalau yang biasa aja juga bukan berarti gak dicukupin karena bisa jadi memang kapasitas mereka segitu atau mereka punya preferensi lain, buat keluarga atau me time.
Untuk arrangement pekerjaan kan bs dihubungi lewat wa dan diatur jadwalnya kapan mrk menyerahkan sampel kl emang kudu ada pemeriksaan lapangan jadi gak buang waktu buat nunggu apalagi bolak balik karena lebih baik buat mengerjakan pekerjaan mereka yang lain.
Dan jangan bikin rute yang ngabisin waktu dan acak jadi itu orang bisa dari A ke D balik lagi C trus ke B #modar.
Mentang-mentang rajin bukan berarti prosedur kerjanya juga asal aja jadinya wasting dan inefisien.
Mungkin kalau antar sampel lebih mudah krn tidak perlu pemeriksaan lapangan krn tinggal antar tapi juga jgn lupa siapkan pengganti kalau tidak ada di tempat supaya orang itu gak bolak balik antar sampel yang sama nemu juga gak orang yang harus dia temui. Buang bensin atau ongkos atau tenaga atau uang dan atau waktu.
Kalau sibuk banget mbok ya sadar diri kudu berbagi beban kerjaan jd gak nyusahin orang dan kl modus buat cari sampingan, mbok ya sadar diri itu bukan cara yang baik dan emang gak tau ya definisi oknum? mungkin salah kerjaan dan hrsnya cari kerjaan lain yang lebih sesuai dengan penghasilan yang lebih memadai jd gak ngerjain orang #modus*endus.
Kalau sibuk banget mbok ya sadar diri kudu berbagi beban kerjaan jd gak nyusahin orang dan kl modus buat cari sampingan, mbok ya sadar diri itu bukan cara yang baik dan emang gak tau ya definisi oknum? mungkin salah kerjaan dan hrsnya cari kerjaan lain yang lebih sesuai dengan penghasilan yang lebih memadai jd gak ngerjain orang #modus*endus.
Jangan salah pilih orang karena bisa fatal. Kerjaan manager ya artinya pasti urusannya ngatur orang terus supaya efisien jangan dipilih karakter direktur karena semua tahu direktur gak bisa kerjaan detail pasti pusing yang diatur karena emang bisanya cuma ngarahin aja. Jadi salah banget kalau pilih orang yang gak sesuai kompetensinya itu juga bikin jadi gak efisien dan pusing juga.
Orang yang hobi kerja/melakukan itu udah pasti paling bagus jadi pegawai karena memang kebahagiaan mereka mengerjakan dan bakal pusing kalau dikasih urusan yang bukan kompetensi mereka jadi fungsikan semua sesuai dengan kompetensi mereka kalau kebalik-balik pasti yang gak nyaman konsumen karena urusan mereka bakal berantakan.
Harus ada klarifikasi yang jelas untuk kompetensi setiap orang apakah mereka pegawai dalam kantor atau luar kantor/lapangan, staff ahli/spesialisasi, manager, konsultan/penasehat dan direktur.
Itu beda banget kompetensinya dan memang ada yang bisa melakukan dari bawah tapi kalau terlalu kuat dominasi yang ada pada mereka bisa jadi memang cuma itu kerjaan yang mereka bisa dan yang lainnya payah dan gak bisa diandalkan.
Karena tidak mungkin orang bisa melakukan semua hal dan dominan di semua hal. Hampir tidak mungkin dan kalau ada ya itu superman sama spiderman.
Kebanyakan orang menempatkan posisi karena percaya atau kenal tetapi mengabaikan kompetensi ini juga merugikan kalau kompetensi gak masuk.
"Masak gue kerja lapangan?"
"lah lo kayak setrikaan begitu gak bisa diem dan semua urusan kerjaan lapangan beres sama lo daripada di kantor bikin semua pusing liat tingkah lo."
"lah lo kayak setrikaan begitu gak bisa diem dan semua urusan kerjaan lapangan beres sama lo daripada di kantor bikin semua pusing liat tingkah lo."
Kenal boleh aja tapi juga harus paham apa kompetensi orang yang kita kenal.
"Udah sini biarin gue aja yang ngerjain..."
"Gak usah...lo bikin aja tuh check list dan putusin siapa aja besok yang mau ngerjain dan gimana ini itunya...Jangan lupa laporannya kalau udah selesai..."
"Gak ah... Gak enak gue kayaknya gue ngebos amat..."
"Emang lu bos mau diapain daripada bantuin berantakan semua ini kerjaan. Mana lelet lagi..."
Semua harus sesuai kompetensi karena memang pekerjaan itu baru bisa berhasil dengan baik kalau sesuai dengan kualifikasi dan requirement.
"Kenapa sih kerjaan gue setumpuk terus?"
"Lo jangan bikin gue jadi gak enak.."
"Kenapa?"
"Gue mau kasih kerjaan lagi buat lo..."
"Apa? Ini aja belum beres..."
"Iya tapi kan hampir kelar..."
"Lo bukan promosiin gue naik jabatan biar terbebas malah menjebak gue lebih dalam..."
"Lah kalau lo naik jabatan siapa yang mau ngurusin semua kerjaan itu? Lo yang paling gape... Paling nambahin bonus dan tunjangan iya tapi kalau ngasih kerjaan lain ya gak bisa lah. Lumpuh total ntar kerjaan semua apalagi gak semua orang bisa kayak lo gitu...Gaji, banyak yang minta lebih gede tapi begitu masuk kerjaan salah kamar semua..."
Komentar
Posting Komentar