Evaluasi

Evaluasi adalah menelaah kembali, crosscek, meninjau kembali, memperbaiki, menyempurnakan, mengganti, menghentikan, mengatur ulang dan mempertahankan sesuatu yang sudah berjalan baik dan menimbulkan dampak yang baik.
Evaluasi bisa dilakukan dari permasalahan atau keluhan yang timbul atau dari keadaan objektif.
Evaluasi tidak selalu berarti memperbaiki ataupun menyempurnakan atau mempertahankan tetapi makna evaluasi adalah mencocokkan kondisi dengan keputusan yang diambil sudah sesuai atau tidak? Berjalan dengan baik atau tidak? Mudhorot dan mafsadat.
Evaluasi adalah agar sesuatu berjalan secara proposional dan berimbang sehingga tidak menimbulkan gangguan atau hal-hal yang negatif dan merusak.
Seringkali kita meributkan hal-hal yang sudah baik hanya karena kita tidak puas tetapi itu justru menjadi gangguan sekaligus musibah juga fitnah buat orang lain.
Kasus yang sedang marak adalah vaksinasi. Prosedur telah dibuat senyaman mungkin dan menengahi perbedaan dan juga menghormati proses juga ruang berpikir orang lain tetapi karena kita gak satisfied sebelum orang tersebut takluk dengan semua framing kita jeng...jeng...kita paksakan kondisi semua orang wajib divaksin dan kalau menolak mereka akan dihukum.
Hey...apa ini? Apa yang mewajibkan itu merasa yakin dengan semua hal sehingga mengabaikan hak orang lain untuk menentukan yang terbaik untuk diri dan keluarga mereka dan apa yang terjadi jika terjadi musibah atas pemaksaan vaksin tersebut?
Apa ini tidak menimbulkan fitnah dan musibah?
Hormati dan hargailah sesuatu yang memang menjadi hak orang lain dan jangan memegang kendali atas hidup orang lain karena mereka berhak berpikir, menimbang, mengatur dan juga memutuskan apa yang terbaik untuk mereka.
Ingin memperbaiki layanan dengan memberikan layanan vaksin gratis di puskesmas, bpjs, asuransi dan rumah vaksin it's oke and fine but insist? Hell no. You out of limit, honey...
You are dealing with an adult, free of will and learner they had same curiosity and question with you, they just have different point of view, experienced and process learning.
You refused to be insist, dictated and dominated and so do them.
Untuk masalah beras lokal dan impor. Its another crazy argument.
Tidak mungkin orang menjual rugi dan juga tidak mungkin orang membeli sesuatu di luar kemampuan mereka. It is nothing to do with nasionalism and everything else.
Tidak tahu bagaimana masyarakat Jepang menangani permasalahan ini tetapi mereka tidak pernah berpikir gila mempertentangkan produk lokal dan impor mereka dan mereka baik-baik saja.
Bahkan produk lokal mereka kekurangan stok dan tidak dapat melayani pembelian masyarakat lokal walaupun harganya selangit tentu dengan kualitas yang memang jauh lebih baik dari beras impor bukan berdasarkan nasionalisme semata dan mereka tidak pernah mempermasalahkan pemerintah mereka melakukan impor karena memang yang membutuhkan produk impor juga banyak terutama yang relatif tidak mampu.
Mungkin yang membuat orang keberatan membayar beras lokal lebih mahal bukan karena berat mengganti modal pupuk dan bibit petani atau keberatan petani mencari keuntungan atas kerja keras mereka mungkin mereka keberatan membayar sesuatu yang menyerupai MLM. Mirip kita membeli herbalife dengan skinfit cuma bedanya ini beras, kebutuhan pokok dengan kondisi daya beli masyarakat yang terbatas. #sesek napas.
Kemandirian mungkin kuncinya dan melakukan sesuatu sesuai dengan passion dan doing the best you can. Memberikan lebih melalui pelayanan yang lebih baik, pengabdian yang lebih baik, menghasilkan yang lebih baik bahkan mengatur lebih baik.
Jujur adalah kunci kedua. Mereka tidak pernah menipu setidaknya itu karakter yang diturunkan dari nenek moyang mereka sedangkan kita yang mayoritas muslim sudah dituntun hadist juga masih ngeyel dan gak peduli.
Dalam menjual mereka tidak pernah berlaku curang. Barang yang baik dengan yang kurang baik dipisah dan tidak diberi harga sama. Kalau ada cacat barang mereka beri tahu dan tentu saja juga dengan konsekuensinya mereka beri harga yang berbeda juga. Sounds familiar? Buat yg muslim tentu saja iya itu kan ajaran hadits dari nabi Muhammad tetapi mengapa asing buat mereka sendiri? Karena mereka tidak pernah praktekkan. Sebatas menghafal malah mungkin banyak yang tidak tahu.
Mereka juga tidak korupsi. Korupsi adalah sesuatu yang memalukan dan mereka bisa bunuh diri cuma karena itu sedangkan disini? Anomali kalau gak korupsi dicurigai gak komitmen sama nasionalisme atau agama.
Mereka juga tidak mau mengambil apa yang bukan hak mereka. Sehingga tidak pernah menuntut sesuatu yang bukan menjadi hak mereka. Why it sounds so familiar? Dalam islam juga demikian bahkan konon sampai saling berebut mengembalikan hak orang lain atau yang mereka anggap milik orang lain. Tapi mengapa it doesn't happened here?
Mereka juga sangat komitmen dengan ketertiban umum. Bagaimana muslim? Hello...so do us, should be...should be...
Evaluasi adalah agar sesuatu berjalan secara proposional dan berimbang sehingga tidak menimbulkan gangguan atau hal-hal yang negatif dan merusak.
Seringkali kita meributkan hal-hal yang sudah baik hanya karena kita tidak puas tetapi itu justru menjadi gangguan sekaligus musibah juga fitnah buat orang lain.
Kasus yang sedang marak adalah vaksinasi. Prosedur telah dibuat senyaman mungkin dan menengahi perbedaan dan juga menghormati proses juga ruang berpikir orang lain tetapi karena kita gak satisfied sebelum orang tersebut takluk dengan semua framing kita jeng...jeng...kita paksakan kondisi semua orang wajib divaksin dan kalau menolak mereka akan dihukum.
Hey...apa ini? Apa yang mewajibkan itu merasa yakin dengan semua hal sehingga mengabaikan hak orang lain untuk menentukan yang terbaik untuk diri dan keluarga mereka dan apa yang terjadi jika terjadi musibah atas pemaksaan vaksin tersebut?
Apa ini tidak menimbulkan fitnah dan musibah?
Hormati dan hargailah sesuatu yang memang menjadi hak orang lain dan jangan memegang kendali atas hidup orang lain karena mereka berhak berpikir, menimbang, mengatur dan juga memutuskan apa yang terbaik untuk mereka.
Ingin memperbaiki layanan dengan memberikan layanan vaksin gratis di puskesmas, bpjs, asuransi dan rumah vaksin it's oke and fine but insist? Hell no. You out of limit, honey...
You are dealing with an adult, free of will and learner they had same curiosity and question with you, they just have different point of view, experienced and process learning.
You refused to be insist, dictated and dominated and so do them.
Untuk masalah beras lokal dan impor. Its another crazy argument.
Tidak mungkin orang menjual rugi dan juga tidak mungkin orang membeli sesuatu di luar kemampuan mereka. It is nothing to do with nasionalism and everything else.
Tidak tahu bagaimana masyarakat Jepang menangani permasalahan ini tetapi mereka tidak pernah berpikir gila mempertentangkan produk lokal dan impor mereka dan mereka baik-baik saja.
Bahkan produk lokal mereka kekurangan stok dan tidak dapat melayani pembelian masyarakat lokal walaupun harganya selangit tentu dengan kualitas yang memang jauh lebih baik dari beras impor bukan berdasarkan nasionalisme semata dan mereka tidak pernah mempermasalahkan pemerintah mereka melakukan impor karena memang yang membutuhkan produk impor juga banyak terutama yang relatif tidak mampu.
Mungkin yang membuat orang keberatan membayar beras lokal lebih mahal bukan karena berat mengganti modal pupuk dan bibit petani atau keberatan petani mencari keuntungan atas kerja keras mereka mungkin mereka keberatan membayar sesuatu yang menyerupai MLM. Mirip kita membeli herbalife dengan skinfit cuma bedanya ini beras, kebutuhan pokok dengan kondisi daya beli masyarakat yang terbatas. #sesek napas.
Kemandirian mungkin kuncinya dan melakukan sesuatu sesuai dengan passion dan doing the best you can. Memberikan lebih melalui pelayanan yang lebih baik, pengabdian yang lebih baik, menghasilkan yang lebih baik bahkan mengatur lebih baik.
Jujur adalah kunci kedua. Mereka tidak pernah menipu setidaknya itu karakter yang diturunkan dari nenek moyang mereka sedangkan kita yang mayoritas muslim sudah dituntun hadist juga masih ngeyel dan gak peduli.
Dalam menjual mereka tidak pernah berlaku curang. Barang yang baik dengan yang kurang baik dipisah dan tidak diberi harga sama. Kalau ada cacat barang mereka beri tahu dan tentu saja juga dengan konsekuensinya mereka beri harga yang berbeda juga. Sounds familiar? Buat yg muslim tentu saja iya itu kan ajaran hadits dari nabi Muhammad tetapi mengapa asing buat mereka sendiri? Karena mereka tidak pernah praktekkan. Sebatas menghafal malah mungkin banyak yang tidak tahu.
Mereka juga tidak korupsi. Korupsi adalah sesuatu yang memalukan dan mereka bisa bunuh diri cuma karena itu sedangkan disini? Anomali kalau gak korupsi dicurigai gak komitmen sama nasionalisme atau agama.
Mereka juga tidak mau mengambil apa yang bukan hak mereka. Sehingga tidak pernah menuntut sesuatu yang bukan menjadi hak mereka. Why it sounds so familiar? Dalam islam juga demikian bahkan konon sampai saling berebut mengembalikan hak orang lain atau yang mereka anggap milik orang lain. Tapi mengapa it doesn't happened here?
Mereka juga sangat komitmen dengan ketertiban umum. Bagaimana muslim? Hello...so do us, should be...should be...
Komentar
Posting Komentar