Learn From Mistakes

Belajar dari kesalahan adalah salah satu alternatif belajar ketika kemampuan analisa sudah mencapai batasnya.
Dalam satu keadaan akan timbul keadaan dimana tidak dapat bertemunya dua pendapat yang saling bersebrangan dan mereka akan belajar dari hal-hal yang akan jadi konsekuensi dari keputusan mereka dan akan lebih baik dalam memahami batasannya.
Pada dasarnya setiap orang memiliki ketakutan yang sama walaupun pendapat mereka berbeda. Unik bukan?
Karena memang mereka melihat sesuatu dari sisi yang mampu mereka mengerti dengan baik dan akan belajar untuk mengerti sesuatu yang tidak mereka mengerti dengan baik.
Kita merasa dengan sharing semua masalah akan teratasi. Benar di satu sisi dan salah di satu sisi. Semua tergantung kondisi.
Ketika sesuatu belum dipahami dengan baik akan terbuka lebar ruang untuk memanipulasi dan mendominasi dalam fase ini akan ada hal-hal yang membingungkan ketika salah satu pihak memaksakan pendapat mereka dan mereka berkomunikasi dan sharing bukan untuk mencari kejernihan melainkan mereka akan mengaburkan sesuatu sebagaimana kalau kita melarang anak terhadap sesuatu yang membahayakan mereka maka mereka akan beri seribu alasan dan juga akan terus melakukannya sehingga tidak ada cara lain selain membiarkannya dan bersabar menunggu proses learning mereka dan mereka akan simpulkan sendiri apa yang terbaik untuk mereka.
Ada dua cara belajar untuk memahamkan pengertian yaitu dengan informasi yang dibaca dan diterima sedangkan yang kedua mengalami sendiri.
Tidak ada yang berlaku benar-benar ekstrem walaupun seringkali manusia sendiri yang seringkali berlaku ekstrem mengkontroversikan sesuatu yang harus diputuskan secara kondisi dipaksa dilakukan secara umum (generalisir atau menyamaratakan).
Ada dua macam tipe pembelajar yang belajar dari kesalahan dan beradaptasi dengan kesalahan. Tobat dan tomat.
Itulah mengapa kita mengenali dua jenis kesalahan disengaja dan tidak disengaja. Yang satu dengan pemahaman penuh sedangkan yang satu karena tidak paham bukan sengaja melakukan kesalahan tetapi dampaknya sama saja.
Mungkin disitu letak takdir ada orang yang terpaksa menanggung kesalahan karena keputusan atau perbuatan orang lain bukan karena orang itu sengaja berbuat jahat tetapi tidak tahu dampak perbuatannya.
Jika setiap orang menyadari bahwa setiap orang berpotensi membuat kesalahannya masing-masing mereka pasti mau memberikan ruang untuk orang lain untuk berpikir, menimbang dan memutuskan. Mereka akan bantu untuk memberikan masukan tetapi tidak memaksakan keputusan dan pertimbangan karena itu tadi pemahaman setiap orang itu unik dan kita tidak pernah benar-benar tahu mana kondisi yang tepat untuk mereka dan ketika mereka mempercayakan keputusan itu kepada orang yang mereka percaya maka kualitas hasil keputusan itu sama dengan yang mereka buat sendiri.
Tetapi kalau mereka dipaksa untuk menerima dan ternyata terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan maka hal ini yang akan membuat keadaan menjadi tegang. Mereka juga kehilangan proses belajar mereka sendiri karena hak mereka untuk memahami rangkaian proses secara keseluruhan dihilangkan.
Kekuatan proses learning ini akan membuat kesimpulan yang akurat setidaknya untuk kondisi mereka sendiri. Mereka akan mampu melakukan evaluasi dan koreksi dengan baik karena memang mereka memiliki ruang untuk belajar dari pengalaman mereka.
Kita ambil contoh empat orang anak yang diberi permen dan melihat respon mereka masing-masing.
1. anak pertama menolak dan ketika ditanya alasannya karena ibunya tidak membolehkannya memakan permen dan itu akan merusak giginya. si anak tidak punya pengalaman gigi rusak tapi dia sepenuhnya percaya dengan arahan ibunya dan mematuhinya.
2. Anak kedua menolak karena dia lelah bolak balik ke dokter gigi menambal giginya dan sering merasa ngilu dan kesakitan
3.Mengambil permen itu dengan gigi bolong dan hitam di sana sini.
4. Mengambil permen dan menyikat giginya sehabis memakannya.
Dari sini kita bisa memahami bagaimana proses learning setiap orang dan memahami setiap tahapannya berdasarkan kondisi masing-masing anak.
Coba kita telaah lebih jauh bagaimana kita bisa mengacaukan mereka dengan melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Anak pertama kita masukkan pemikiran bahwa tidak semua perkataan ibunya benar dan tidak seharusnya dia mengikutinya dan akan ada dua reaksi menolak dan menerima.
Menolak ketika dia merasa yakin penuh dengan arahan sang ibu tanpa ragu dan menerima ketika dia berpikir ulang dan menyadari bahwa dia tidak berlaku teliti dengan membiarkan sang ibu memintanya melakukan sesuatu tanpa mencoba meneliti kebenarannya.
2.Anak kedua akan lebih sulit dipengaruhi kenapa? Dia mengalami sendiri prosesnya dari awal sampai dengan akhirnya dan tidak ada kesalahan dalam menyimpulkan di dalamnya. Karena dia mengalami sendiri rasa sakit, ngilu dan lelah mondar-mandir ke dokter dan bisa bersikap lebih bijak ketika menolak dan tidak akan berlaku ambigue dan cukup berkata singkat, tidak, terima kasih.
3. Anak ketiga juga tidak mungkin akan memiliki keraguan karena diapun sudah beradaptasi dan tidak ada keraguan kalau dia masih ingin terus mempertahankan kebiasaannya.
4. Kita tidak perlu membahas anak ke empat yang bisa melakukan antisipasi dan berpikir dengan tepat dimana letak masalahnya dan bagaimana harus mengatasinya.
Komentar
Posting Komentar