LGBT

Saya bukan pembela atau pecinta LGBT tetapi saya juga tidak bisa menerima perlakuan tidak manusiawi terhadap manusia lain.
Kita semua tidak bisa menghindar dari kebencian yang kita miliki tetapi kita semua wajib berbuat adil jangan sampai kebencian kita membuat orang lain menjadi terzolimi.
Tadi malam sebelum menemani anak-anak saya tidur saya menyempatkan diri menonton kisah-kisah LGBT yang ada di you tube dan saya tidak menyangka dengan perlakuan-perlakuan kejam yang mereka dapatkan dan itu berasal dari orang-orang yang baik dan sudah bisa membedakan serta melaksanakan perbuatan yang baik dan menghindari yang salah.
Apakah kebencian yang kita punya membuat kita berhak mengencingi mereka? Mempersekusi mereka? Dimana nurani kita dan siapa yang kita ikuti? Musuh nabi kita yang memang asalnya kejam dan zalim atau nabi kita yang sangat penyabar, pemaaf dan juga lembut?
Dalam satu kisah setelah nabi merajam seorang pezina beliau berpesan janganlah kalian menghina dan meremehkannya atas dosa yang diperbuatnya karena ketahuilah bahwa tobatnya membawa rahmat bagi seluruh alam.
Tidak pernah nabi dan sahabat memberikan contoh sifat yang kejam, hina dan rusak. Kalau musuh nabi banyak yang kejam dan lihat bagaimana bilal dicambuk karena keislamannya?
Maysitoh direbus bersama bayinya?
Lihat bagaimana keimanan dan ketabahan mereka ketika menghadapi kekejaman itu dan bagaimana Allah mengganjar surga karena keikhlasan mereka menjadi sebab musuh Allah abadi berada di dalam nerakanya dan tidak akan bisa keluar walaupun memohon dan mengiba? Karena Allah mengharamkan surga atas mereka.
Apakah ada musuh Allah yang bertaubat?
Banyak dan ini dibuktikan ketika penaklukan mekkah membuktikan betapa luasnya kasih sayang dan rahmatNya dan terbukti Allah maha benar dengan segala firmanNya. Ketika nabi mendoakan mereka agar mereka dibinasakan karena kemusyirikan juga kekejaman yang mereka miliki maka Allah menegur nabi dengan mengatakan bahwa menjadi hakNya menghukum, mengazab atau mengampuni siapapun yang dikehendaki dan hal itu dibuktikan ketika penaklukan mekkah dimana memang terbukti mengenai hal ini terutama mereka yang memang memperoleh pengampunan Allah dan memang diberi kesempatan memeluk islam dan mengganti seluruh kehidupan jahiliyahnya. Setelah mendapat hidayah mereka pasti menyesal dengan seluruh perbuatan kejam dan bodoh yang mereka lakukan karena memang terhijab dengan hidayah dan cahaya Allah sebagaimana Umar kerap menangisi keadaannya ketika jahiliyah mengubur anak perempuannya karena kebiasaan masyarakat ketika itu.
Apakah kita berkesimpulan bahwa biarkan saja terjadi kekejaman antar manusia?
Tentu tidak demikian. Kita wajib menyampaikan kebenaran dan kebaikan dengan cara yang baik dan jangan kotori kita dengan cara yang jahat dan kejam yang membuat kita sendiri menjadi sesuatu yang tidak jelas baik dan buruknya karena tercampur antara yang baik dan buruk. Banyak bersabar terhadap mereka yang belum mendapat hidayah karena jika itu terjadi pada kita maka akan sama saja keadaannya dan bisa jadi lebih buruk.
Dari tontonan yang saya lihat penyebab mereka terjun ke dunia LGBT beragam dan kebanyakan karena dorongan dan penerimaan dari dalam diri mereka sendiri karena ada juga yang bertaubat karena sejak awal sudah menolak di dalam hati dan pikirannya walaupun secara perbuatan menerima dan sampai akhirnya perang dalam dirinya memenangkan keinginan untuk berubah.
Memang untuk perubahan, ada yang bisa memaksa diri mereka berubah untuk selamanya dan bersabar terhadap semua godaan dan dorongan dalam diri mereka dengan terus mengingat bahwa hal itu adalah tidak baik dan dosa.
Ada juga yang sementara dan kemudian kembali lagi. Ada juga yang tidak berusaha berubah karena merasa tidak ada gunanya dan setiap orang sudah memiliki garis takdir sendiri-sendiri.
Yang menarik adalah tidak selamanya proses yang dilalui setiap manusia hitam dan mereka juga berusaha menjadi yang terbaik dalam keterbatasan kondisi mereka.
Dalam satu kesaksian seorang waria mengatakan bahwa dirinya mengenal oral seks dari kelas dua sd ketika dititipkan di pesantren dan dia tidak merasa takut atau salah melainkan hal itu sebagai suatu kebahagiaan buat dirinya dan dia bisa menikmati hal tersebut sampai dengan masa dewasa bahkan menjadi rebutan yang membuat orang lain sampai berkelahi.
Kemungkinan setiap anak kecil yang terjerumus pada pelecehan atau penyimpangan seksual merasakan hal yang sama dan itu mungkin yang membuat mereka merasa nyaman saja melakukannya sama halnya dengan orang dewasa yang juga menerima hal itu sebagai sesuatu yang menyenangkan mereka dan memang tidak ada perasaan berdosa di dalamnya. Tentu hal ini akan menjadi masa-masa sulit bagi orang sekitarnya yang memiliki pemahaman dan juga perasaan yang berbeda. Bagaimana kita harus bersikap?
Tetap memberitahukan mana yang benar dan salah itu memang harus dilakukan karena ada tiga macam golongan di bani israil ketika menyikapi larangan mencari ikan di hari sabtu dimana Allah sengaja membuat ikan-ikan itu banyak bermunculan di hari sabtu dan meniadakan mereka di hari jum'at dan minggu untuk menguji siapa dari mereka yang benar-benar mematuhi larangannya.
Satu golongan mematuhi dengan sebenar-benarnya dan melarang juga mengingatkan mereka yang mengambil ikan di hari sabtu agar tidak melakukannya.
Golongan kedua mereka menaruh jaring di hari sabtu dan memang tidak mengambil ikan di hari sabtu tetapi di hari lain dan mereka mengakali aturan tersebut.
Golongan ketiga jelas-jelas melanggar dan mengabaikan larangan tersebut.
Semua sepakat tidak ada azab turun pada golongan yang pertama tetapi untuk golongan kedua sebagian berpendapat ada yang mendapat azab dan tidak sedangkan yang ketiga seluruhnya mendapatkan azab sebagaimana hal ini terjadi pada masa nabi luth dimana nabi luth dan pengikutnya diselamatkan kecuali isteri dan kaumnya yang kerap berbuat dosa dan kemungkaran seluruhnya dimusnahkan tanpa bersisa karena mungkin memang sudah tidak ada kebaikan di dalamnya sama sekali.
Isteri nabi luth sendiri bukan termasuk mereka yang suka berbuat liwath hanya saja sering mencari keuntungan dari perbuatan kaumnya tersebut sehingga dihukumi sama saja.
Dari teks-teks tersebut kemungkinan yang mengundang murka Allah jika kita tidak melakukan 'ammar ma'ruf apalagi menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik dan bahkan menarik keuntungan daripadanya maka bisa jadi dihukumi sama saja di sisi Allah.
Yang dicontohkan nabi adalah kewajiban menyampaikan 'ammar ma'ruf nahi mungkar dengan cara yang baik walaupun akan mendapat cercaan dan juga hinaan ataupun celaan tetapi tidak melakukan kejahatan kemanusiaan itu sendiri seperti mempersekusi dan melakukan tindakan-tindakan yang bisa menghinakan.
Sehingga bagaimana seharusnya?
Kita tetap tidak membenarkan perbuatan mereka apalagi ketika mereka sedang berada dalam masa kegelapan mereka sehingga ketika mereka memang harus menjalani berbagai operasi yang dilakukan aparat keamanan jika memang mereka melakukan keresahan dan gangguan dalam masyarakat dan atau melakukan perbuatan prostitusi maka lakukan dengan cara yang baik dan benar.
Memberikan batasan logis kepada mereka apalagi ketika mereka memang sudah mengetahui apa yang mereka lakukan salah maka dengan tetap menyampaikan yang benar juga mengingkari perbuatan mereka dengan hati tentu saja dengan memberikan mereka kesempatan berproses menjadi manusia yang baik dalam masyarakat adalah kewajiban kita. Karena ada juga sabda nabi iringilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik. Kalau mereka memang masih belum dapat keluar dari kegelapan mereka selama mereka mengingkari perbuatan mereka dan kelompok mereka dalam hati maka itu adalah selemah-lemahnya iman tetapi tetap mereka melakukan hal yang benar melakukan pengingkaran terhadap perbuatan yang mereka lakukan karena yang bisa jadi dihukumi sama ketika hal itu tidak diakui sebagai tindakan yang salah melainkan mendapatkan pembenaran maka ini lah yang tidak dapat dibenarkan.
Karena ketika mereka berhasil melalui masa gelap dalam hidup mereka banyak juga yang terjun untuk kemanfaatan dalam masyarakat apalagi mereka yang masih menjalankan peribadahan mereka, setidaknya mereka tidak mengingkari apa yang Allah berikan pada mereka dan mengakui semua kesalahan dan dosa yang mereka lakukan ketika mereka beribadah kepada Allah dengan menggunakan jati diri yang asli.
Allah mencintai orang-orang yang melakukan perbaikan dan memohon ampun atas dosa-dosa yang mereka lakukan. Tidak berputus asa dari rahmat Allah maksudnya tetap memohon ampunan dan perbaikan bagi diri mereka sendiri.
Kita sendiri sebagai manusia tidak bisa menghakimi masa depan seseorang karena bisa saja orang yang melakukan perbuatan ahli surga seumur hidupnya di akhirnya melakukan perbuatan ahli neraka dan wafat dalam keadaan su'ul khotimah. Naudzubillah min zalik dan bisa juga orang yang selama hidupnya melakukan perbuatan ahli neraka di akhir hidupnya melakukan perbuatan ahli surga dan wafat dalam keadaan khusnul khotimah. Alhamdulillah wa syukurilah.
Milikilah hati yang selamat yang dalam gelap dan terangnya enggan menyakiti atau mengganggu atau menzolimi orang lain. Dimana hati tersebut memang tidak mengkhianati fitrah yang diberikan sang Pemilik ruh.
Karena seorang pelacur dimasukkan surga oleh Allah karena memberi minum kepada seekor anjing sedangkan seorang ahli ibadah digelincirkan dengan khamer sehingga berzina dan membunuh pada akhir hidupnya.
Walaupun memang hanya Allah yang mampu mengenali qolbu sebelum Allah mengungkap tabirnya.
Siapa yang menyangka orang yang mengebom mesjid sebanyak 1000 buah diberi hidayah padahal tidak satupun meragukan kebenciannya terhadap islam?
Siapa juga yang menyangka Umar bin Khatab berbalik memeluk islam dan menjadi pembela islam dibalik kegaharannya?
Siapa yang menyangka ahli ibadah yang mampu menjauhkan diri dari semua maksiat justru tergelincir di akhir hidupnya?
Semua pengetahuan hanya ada di sisi Allah.
Wallahu'alam tetapi yang perlu kita tahu bahwa manusia bisa salah melihat dan merasa tetapi Allah tidak pernah salah ketika memilih dan menghendaki kebaikan hambaNya...Wallahu'alam.
Komentar
Posting Komentar