Memahami Konteks

Melepaskan sesuatu dari konteksnya artinya kita sudah menyiapkan diri kita kepada musibah dan bencana atau masalah.
Sebagai contoh kita memaksakan ASI pada ibu yang tidak memproduksi ASI dan wajar kalau bayinya meninggal dalam waktu tiga hari karena dehidarasi dan kelaparan.
Kita memvaksin mereka yang berada dalam kondisi khusus dan menyepelakan kondisi mereka yang rentan terkena infeksi dimana artinya asupan oksigen mereka juga rentan bermasalah dan mengkamuflase penjelasan ilmiah kita dengan memberikan informasi mereka sensitif terhadap influenza padahal semua tahu influenza itu nyaris tidak dapat dihindari serta relatif aman dan obatnya istirahat dan minum sup hangat sedangkan infeksi serius kita sembunyikan karena kita takut itu akan membuat mereka mengatakan tidak walaupun seringkali pertimbangan setiap orang itu bisa saja berbeda tentu saja ini bukan karena pemaksaan tetapi pertimbangan pribadi dengan persetujuan penuh tanpa tekanan atau penipuan. Karena ada juga yang mereka sangat fanatik dan yakin sehingga mau ambil resiko.
Mirip seperti orang yang kena penyakit jantung atau diabetes melahirkan normal secara prosedur dan aturan mereka dilarang melahirkan secara spontan tetapi mereka memaksa dan ternyata tidak terjadi apapun atau kalau terjadi sesuatu mereka sudah siap dengan resikonya tetapi kan berbeda kalau mereka tidak diarahkan untuk mengamankan diri mereka dulu karena kondisi mereka khusus dan kemungkinan mereka mengalami resiko lebih tinggi.
Dan jangan sekali-kali kita mengatakan pada mereka yang menolak karena kondisi khusus yang ada pada mereka sedangkan ada juga orang lain dalam keadaan yang sama dan mereka berhasil divaksin dan tidak terjadi apapun dengan mengatakan," kamu sih anti vaks, kolot ,konservatif liat tuh si A penyakit degenarifnya 10 kamu mah cuma dua dan dia fine aja tuh..."
Ini bukan sikap yang bijaksana karena kita tahu persis kondisi setiap orang tidak bisa dibandingkan dan segala sesuatu bisa berlaku sama atau berbeda sehingga kita memang harus menghargai mereka yang melakukan kehati-hatian dengan mereka yang melakukan pengabaian selama semua itu dengan persetujuan dan keputusan mereka sendiri.
Kita juga tidak boleh mengatakan pada mereka yang misal mendapat musibah karena melakukan pengabaian dengan mengatakan, "kamu sih gak sayang anak. Mentang-mentang sibuk dan kerepotan ngurus anak sakit sampe parno begitu. Makanya jangan suka musuhin yang anti vaks."
Ini juga gak bener karena cukuplah setiap orang mengambil pelajaran dari pengalaman mereka sendiri dan pengalaman itu bisa jadi sama buat orang lain dan bisa jadi tidak.
Pilihlah kalimat yang bijaksana dan menentramkan.
"Saya dukung keputusan kamu untuk tidak memberikan vaksin karena kondisi khusus anak kamu. Kamu telah melakukan hal yang benar."
Begitu juga kalau mereka mengambil resiko.
"Kamu ibu yang hebat. Tidak semua orang mengambil keputusan seberani kamu dan itu karena rasa sayang yang sangat melimpah untuk anakmu. Kamu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Saya salut dan saya dukung."
Sikap-sikap semacam ini yang kita butuhkan karena memahami tidak akan pernah tahu kita bagaimana kondisi setiap orang dan semua orang memiliki resiko yang sama dalam memutuskan terlepas apapun yang mereka putuskan sehingga bersikaplah dengan benar dan tepat.
Berbeda jika hak untuk mereka melakukan perlindungan umum kita hilangkan begitu saja dan jika terjadi kelumpuhan atau kematian itu sangat wajar karena kita telah melepaskan sesuatu dari konteksnya dan berlaku manipulatif atas nama kebaikan atas nama pembenaran yang kita buat sendiri.
Mirip seperti orang yang kena penyakit jantung atau diabetes melahirkan normal secara prosedur dan aturan mereka dilarang melahirkan secara spontan tetapi mereka memaksa dan ternyata tidak terjadi apapun atau kalau terjadi sesuatu mereka sudah siap dengan resikonya tetapi kan berbeda kalau mereka tidak diarahkan untuk mengamankan diri mereka dulu karena kondisi mereka khusus dan kemungkinan mereka mengalami resiko lebih tinggi.
Dan jangan sekali-kali kita mengatakan pada mereka yang menolak karena kondisi khusus yang ada pada mereka sedangkan ada juga orang lain dalam keadaan yang sama dan mereka berhasil divaksin dan tidak terjadi apapun dengan mengatakan," kamu sih anti vaks, kolot ,konservatif liat tuh si A penyakit degenarifnya 10 kamu mah cuma dua dan dia fine aja tuh..."
Ini bukan sikap yang bijaksana karena kita tahu persis kondisi setiap orang tidak bisa dibandingkan dan segala sesuatu bisa berlaku sama atau berbeda sehingga kita memang harus menghargai mereka yang melakukan kehati-hatian dengan mereka yang melakukan pengabaian selama semua itu dengan persetujuan dan keputusan mereka sendiri.
Kita juga tidak boleh mengatakan pada mereka yang misal mendapat musibah karena melakukan pengabaian dengan mengatakan, "kamu sih gak sayang anak. Mentang-mentang sibuk dan kerepotan ngurus anak sakit sampe parno begitu. Makanya jangan suka musuhin yang anti vaks."
Ini juga gak bener karena cukuplah setiap orang mengambil pelajaran dari pengalaman mereka sendiri dan pengalaman itu bisa jadi sama buat orang lain dan bisa jadi tidak.
Pilihlah kalimat yang bijaksana dan menentramkan.
"Saya dukung keputusan kamu untuk tidak memberikan vaksin karena kondisi khusus anak kamu. Kamu telah melakukan hal yang benar."
Begitu juga kalau mereka mengambil resiko.
"Kamu ibu yang hebat. Tidak semua orang mengambil keputusan seberani kamu dan itu karena rasa sayang yang sangat melimpah untuk anakmu. Kamu tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya. Saya salut dan saya dukung."
Sikap-sikap semacam ini yang kita butuhkan karena memahami tidak akan pernah tahu kita bagaimana kondisi setiap orang dan semua orang memiliki resiko yang sama dalam memutuskan terlepas apapun yang mereka putuskan sehingga bersikaplah dengan benar dan tepat.
Berbeda jika hak untuk mereka melakukan perlindungan umum kita hilangkan begitu saja dan jika terjadi kelumpuhan atau kematian itu sangat wajar karena kita telah melepaskan sesuatu dari konteksnya dan berlaku manipulatif atas nama kebaikan atas nama pembenaran yang kita buat sendiri.
Kita menganalisa keadaan gizi buruk dan malnutrisi juga penyakit karena sanitasi buruk dengan vaksin dan begitu korban berjatuhan maka kita akan cari pembenaran lain atas kecerobohan dan juga keegoisan kita dalam memaksakan kebenaran dan kita katakan mereka berpikiran anti vaksin ketika membeberkan ada misscontext.
Kita perlu memberikan ruang pada orang lain mengapa? Apa yang mereka rasakan selama itu bukan kamuflase apalagi manipulasi bisa jadi benar dan merupakan pengamatan yang terluput.
Dan anehnya orang-orang semacam ini sangat takut dimintai pertanggungjawabannya dan bersiap menyerang balik karena mereka merasa mereka telah melakukan kebaikan yang belum tentu dibutuhkan dan bisa jadi bencana buat orang lain sebenarnya dan mereka tidak terima kerja keras mereka diganjar hukuman padahal semua tahu setiap kecerobohan dan pengabaian atau kelalaian adalah merupakan hal yang wajar untuk dimintai konsekuensi karena jika hal itu tidak dilakukan maka mereka akan melakukan sesuatu tanpa batasan logis dan tanpa kesempatan untuk bisa dikoreksi. Biar korban berjatuhan mereka santai aja.
"kenapa sih ribut cuma 10000 orang? masyarakat kita kan 200 juta?"
"Alah cuma satu yang kemarin 10 juga diem2 aja...Bawel dan hiperbol deh..."
"kenapa sih ribut cuma 10000 orang? masyarakat kita kan 200 juta?"
"Alah cuma satu yang kemarin 10 juga diem2 aja...Bawel dan hiperbol deh..."
Mereka juga tidak punya rasa keadilan dan empati apalagi selaku korban dan mencukupkan diri dengan perlindungan-perlindungan secara hukum formil mengabaikan substansial yang akhirnya berujung pada keyakinan hakim karena mereka telah mempersiapkan untuk memproteksi diri mereka dari perlindungan hukum formil mengabaikan keadilan dan kemanusiaan yang sesungguhnya. Mungkin yang mereka lakukan ketidaksengajaan tetapi berpotensi membawa kematian.
Padahal ketika hal itu dilakukan dengan lebih baik dengan menggunakan prosedur yang adil dan memadai, hal-hal semacam itu dapat ditekan dan mungkin lebih teliti pengamatannya tetapi kenapa mereka selalu memaksa dan mendominasi bahkan berani melakukan kebohongan publik dengan memberikan informasi yang menyesatkan?
Ketika kita memahami kondisi khusus maka kita akan memahami mereka memiliki semacam kondisi yang tidak umum sehingga rentan memiliki respon yang negatif dan ini bisa karena kondisi gizi mereka jika mereka mengalami malnurtrisi atau anemia karena cacingan atau penyakit lain dari sini saja kita sudah bisa liat bagaimana asupan oksigen dalam darah mereka dan begitu mereka terinfeksi maka jika leukosit mereka tidak mampu mengatasi dalam artian demam mereka tidak mereda melainkan meninggi tentu bukan antibodi yang keluar dari tubuh mereka tetapi nyawa mereka sendiri yang keluar dari tubuh mereka atau kerusakan atau kelumpuhan karena kekurangan oksigen diakibatkan demam atau nyeri yang mereka derita.
Karena pada setiap demam tinggi akan terjadi hal yang lazim terjadi pada setiap infeksi yaitu jantung memompa dengan cepat untuk mengalirkan oksigen lebih cepat dan mereka juga rentan mengalami sesak nafas jika oksigen ini tidak lancar disuplai dan itu menjelaskan mengapa terjadi kerusakan otak atau lain sebagainya karena infeksi tidak berhasil ditangani dengan baik.
Hal ini juga berlaku pada penderita kanker, asma, penyakit degenatif yang asupan oksigen dan darahnya juga cenderung tidak lancar apakah karena dalam tubuh mereka mengalami ketidakseimbangan yang menyebabkan respon mereka berbeda dengan mereka yang relatif sehat.
Ketika kita membahas aspartam, vitamin D dan E dan juga calcium semua itu disesuaikan dengan kebutuhan dan metabolisme tubuhnya karena yang membuat sesuatu itu berbahaya kalau ada penumpukan dan kelebihan dalam tubuh yang tidak bisa diurai atau diserap. Ibarat masalah aja ditumpuk dan kalau tidak terjadi penumpukan dan semua berjalan dengan lancar maka tentu saja hal itu tidak berbahaya justru bermanfaat. Terlalu berlebihan berbahaya dan terlalu kurang juga sama.
Itu sebabnya kita mengenal dua istilah hiper dan hipo. Mal, de atau over.
Karena pada setiap demam tinggi akan terjadi hal yang lazim terjadi pada setiap infeksi yaitu jantung memompa dengan cepat untuk mengalirkan oksigen lebih cepat dan mereka juga rentan mengalami sesak nafas jika oksigen ini tidak lancar disuplai dan itu menjelaskan mengapa terjadi kerusakan otak atau lain sebagainya karena infeksi tidak berhasil ditangani dengan baik.
Hal ini juga berlaku pada penderita kanker, asma, penyakit degenatif yang asupan oksigen dan darahnya juga cenderung tidak lancar apakah karena dalam tubuh mereka mengalami ketidakseimbangan yang menyebabkan respon mereka berbeda dengan mereka yang relatif sehat.
Ketika kita membahas aspartam, vitamin D dan E dan juga calcium semua itu disesuaikan dengan kebutuhan dan metabolisme tubuhnya karena yang membuat sesuatu itu berbahaya kalau ada penumpukan dan kelebihan dalam tubuh yang tidak bisa diurai atau diserap. Ibarat masalah aja ditumpuk dan kalau tidak terjadi penumpukan dan semua berjalan dengan lancar maka tentu saja hal itu tidak berbahaya justru bermanfaat. Terlalu berlebihan berbahaya dan terlalu kurang juga sama.
Itu sebabnya kita mengenal dua istilah hiper dan hipo. Mal, de atau over.
Dalam bidang agama juga sama bahayanya jika melepaskan konteks ujungnya akan terjadi kerusakan dan musibah bukan sebaliknya.
Memahami teks yang haq dengan pemahaman yang batil adalah sumber bencana.
Memahami teks yang haq dengan pemahaman yang batil adalah sumber bencana.
Kita harus mampu memahami teks berdasarkan konteksnya untuk menghindari pemahaman yang batil apalagi perbuatan batil.
Poligami tidak diartikan secara batil dan kita harus cerdas ketika memahami apa yang tersurat dengan pengertian tersirat yang mana hal ini kita temukan tidak ada pertentangan antara teks Qur'an, hadist dan contoh nabi dan sahabat juga aulia kenapa kita harus memilih contoh?
Karena jika bukan orang-orang yang sudah diakui kecerdasan dan kebaikannya akan timbul masalah dan musibah yang akhirnya menyerupai kerusakan baru seperti praktek nikah mut'ah, poligami bermodus zina dan simpanan, nikah wisata, nikah kontrak dan nikah misyar. Tidak satupun dari pernikahan-pernikahan ini halal dan semua tergolong dengan menghalalkan zina.
Ketika kita menyikapi perkataan yang tujuannya adalah mengecam jangan kita artikan itu sebagai tindakan yang harus dilakukan.
Seperti halnya ketika nabi mengatakan ingin membakar rumah-rumah mereka yang enggan ke masjid, tidak pernah sekalipun nabi melakukan pembakaran tersebut dan itu juga bukan berarti Allah menyia-nyiakan pahala sholat mereka di rumah hanya saja hal itu makruh bagi yang mampu, mubah bagi yang sakit atau kelelahan atau memiliki halangan. Pahala mereka tetap dinilai satu derajat berbeda dengan yang dua puluh tujuh derajat.
Begitu juga ketika ada teks mengatakan kalau ada orang yahudi dan nasrani memberi salam maka jangan dijawab dan pepet mereka ke pinggir. Nabi dan sahabat sendiri tidak pernah melakukan ini.
Yang mereka lakukan adalah tidak menjawab salam dan berlalu.
Dalam satu kisah abu nawas dikisahkan abu nawas terjebak dalam sekumpulan yahudi ketika dia berjalan menuju pasar dan tanpa sengaja melewati kumpulan Yahudi. Mengapa harus menghindari yahudi? Karena mereka memiliki sifat yang jahil, suka mencela dan juga mengolok-olok. Al hasil dalam kisah tersebut abu nawas menyesali perbuatan bodohnya meladeni mereka dan bukan memilih segera berlalu.
Tidak ada pertentangan antara teks dengan apa yang dilakukan nabi dan sahabat dan demikian juga perkataan abu nawas. "Wahai alangkah bodohnya aku mau meladeni olok-olokkan mereka walaupun aku bisa melakukannya betapa bodohnya aku menghabiskan waktu dan energi untuk meladeni mereka."
Ini sama dengan anjuran Allah untuk berpaling dari kaum yang bodoh, jahil dan suka mengolok-olok. Tidaklah sebuah kebaikan ketika kita meladeni kebodohan dan kejahilan orang lain karena hal itu hanya menghabiskan waktu kita, tidak memberikan manfaat selain kelelahan dan kesia-siaan.
Begitu juga mereka yang suka melakukan bid'ah mereka dihukumi Imam Nawawi seperti Yahudi dan Nasrani sehingga terhadap mereka pun dianjurkan berpaling karena memang lebih merupakan kesia-siaan. Tidak ada satupun yang mampu menyesatkan mereka yang diberi petunjuk dan tidak satupun mampu memberi petunjuk mereka yang disesatkan Allah. Sesungguhnya setiap manusia adalah tersesat kecuali mereka yang diberi petunjuk oleh Allah.
Mengapa kita harus berpaling dari mereka yang bodoh dan suka mengolok-olok karena mereka hanya menimbulkan kesesatan, kesia-siaan, kebencian, memancing kemarahan dan juga fitnah. Problem maker not problem solving. Missdirection not straightening.Diversion not achievement.Turn not straight. fake not fact. deceive not true.Set up.
Komentar
Posting Komentar