Mindset

Drops Of Water, Water, Liquid, Fresh, Splash, Blue

Ketika kita mengkritisi sesuatu atau mengklarifikasi sesuatu seringkali kita terpaksa berasumsi atau meraba apa yang menjadi akar permasalahan sehingga sesuatu bisa seperti benang kusut?
Manusia sangat dipengaruhi dengan bagaimana cara dia berpikir apakah cenderung objektif, subjektif, manipulatif, proposional atau memihak?
Seringkali masalah menjadi rumit ketika satu persoalan itu bukan ditempatkan sebagaimana mestinya atau diurai tetapi dijejalkan. 
Sebenarnya itu masalah adalah masalah pribadi atau golongan tapi dibebankan kepada negara akhirnya terjadi conflict interest yang ujungnya pasti menjadi masalah dan menjadi rumit ketika masalah itu menjadi tidak terkendali. 
Masalah itu sebenarnya bisa diselesaikan sendiri dan memang seharusnya demikian karena kalaupun dipaksakan tidak ada kapasitas mereka yang dibebankan bisa meringankan karena keterbatasan yang mereka miliki tetapi lagi-lagi hal itu kembali dijejalkan kepada pihak yang akhirnya bisa jadi menyalahgunakan kompetensinya atau membuat masalah baru karena memaksakan diri.
Kita ambil contoh masalah infrastruktur di satu sisi kita butuh banyak dibangun infrastruktur untuk membuka akses ekonomi masyarakat dan kita dihadapkan pada kendala efisiensi dan alat juga kecepatan dan ini sepertinya tidak bisa disediakan oleh konstruksi dalam negeri kita yang memiliki keterbatasan dalam hal efisiensi, kecepatan dan juga alat. 
Bahasan ini hampir sama dengan persoalan negara tetangga yang secara openminded membuka diri mengakui mereka tidak memiliki kompetensi dalam memenuhi kebutuhan mobil nasional mereka bukan mereka tidak tergiur dengan berbagai hal jika itu dihasilkan sendiri akan tetapi itu kalau memenuhi kompetensi kebutuhan mereka dalam hal kualitas, endurance dan juga layanan pasca jual yang lebih membantu melancarkan urusan keseharian mereka daripada mereka bersikap fanatik buta dengan nasionalisme yang tidak tepat penempatannya akhirnya justru membawa kerugian bagi mereka dan dengan legowonya mereka mengakui bahwa engineer mereka belum memiliki kompetensi sesuai requirement dan kalau dipaksakan justru investasi yang dipaksakan itu akan melibas mereka dan mengganggu kebutuhan mereka yang lain karena dalam mengatur keuangan dan juga prioritas dibutuhkan sikap2 yang kritis dan analitis mengenai apa yang urgent, important, pending atau canceled.
Seperti masalah pkl tanah abang yang sekarang sudah diselesaikan sebagaimana mestinya seharusnya kan masalah itu tidak dibebankan ke pemprov dan akhirnya menjadi masalah dan seharusnya kan mereka memang mencari jalan keluar yang tidak menimbulkan masalah buat orang lain dan mereka sendiri karena bagaimanapun tidak bisa dibenarkan mengganggu hak orang lain untuk kepentingan sendiri karena itu pasti akan mengganggu urusan orang banyak apalagi ini sudah bukan hanya trotoar aja yang diganggu tetapi juga jalan yang akan digunakan untuk kemudahan urusan orang banyak dan tentu saja banyak yang melakukan protes dan keluhan walaupun mereka juga bisa mengerti bahwa hal itu karena desakan kebutuhan hidup tapi bukan berarti mereka juga bisa mengerti dengan cara yang tidak bertanggung jawab tersebut. 
Sedangkan untuk trotoar saja kita harus hormati penggunaannya karena itu untuk pengguna jalan dan ketika masyarakat sudah terbiasa tidak tertib justru mereka yang marah ketika mereka bersinggungan dengan yang lebih berhak dalam hal ini pengguna jalan itu sendiri pejalan kaki sehingga sudah salah, marah.
Ketidakmampuan berkomunikasi juga menjadi kendala sehingga seringkali hal itu ditumpahkan dalam bentuk kemarahan dan demonstrasi.
Kita harus bisa menilai apa yang jadi prioritas kita seperti menyediakan mobil murah untuk petani dan infrastruktur mana yang lebih kita butuhkan penyediaan mobil murah dan infrastruktur atau penyediaan lapangan pekerjaan tetapi beresiko inefisiensi di dalam harga dan jumlah?
Ketika keadaan harus memilih kita harus mampu memilih dengan bijaksana karena seringkali kita tidak bisa membarengi satu urusan dan terpaksa memilih yang lebih penting. 
Untuk menyediakan lapangan pekerjaan sebenarnya kebanyakan mereka nyaman bekerja sendiri atau memiliki komunitas yang sesuai dengan minat mereka sehingga mereka juga bisa lebih nyaman dan tenang hanya saja memang kemungkinan pemerintah harus memfasilitasi mereka dengan modal kerja atau bantuan-bantuan atau mencarikan pasar yang lebih sesuai karena bisa dipastikan mereka tidak akan efisien jika semua mereka tanggung sendiri tidak akan mampu bersaing dengan produk impor dan juga daya beli masyarakat yang cenderung rendah sehingga kran-kran ekspor atau produk tersebut dikonsumsi untuk masyarakat menengah ke atas yang daya belinya lebih menjangkau.
Politisasi agama memperburuk keadaan dan itu tidak menjamin kita tidak kena masalah apalagi musibah kalau kita tidak bisa berpikir dengan proposional dan jujur cenderung memihak dan memanipulasi.
Masyarakat yang cenderung emosional dan sering tidak masuk akal juga membuat masalah menjadi rumit karena tuntutan-tuntutan mereka seakan hanya dikeluarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban untuk mengklarifikasi masalah.
Dalam menjalankan pekerjaan kompetensi adalah sangat dibutuhkan karena pekerjaan bersifat objektif tidak memiliki toleransi dalam hal kualitas, efisiensi dan hasil sehingga seringkali hal ini menyulitkan jika tidak dipikirkan secara matang. 
Setiap orang pasti memiliki kompetensinya masing-masing sehingga tidak seharusnya hal itu dikhawatirkan seharusnya hanya saja mungkin harus lebih bersabar dalam memahami persoalan untuk menentukan mana yang memang harus diprioritaskan dan tidak. 
Belum lagi banyaknya pihak-pihak yang melakukan hate speech, dumb speech dan juga otoriter mereka tidak memberikan ruang bagi masyarakat untuk menganalisa dan mengembangkan pikiran mereka sendiri.
Sifat masyarakat yang cenderung otoriter dan dominasi kemungkinan dipengaruhi oleh pola asuh yang memang cenderung memaksa dan tidak memberikan kesempatan anak untuk berpikir dan merasa apalagi menimbang sesuatu yang berbeda dengan orang tua mereka.
Dua jenis pola asuh yang dominan di masyarakat kita yaitu dominasi serta otoriter dan permisive keduanya merusak masyarakat karena mereka tidak mampu berpikir apalagi berlaku seimbang sehingga cenderung memaksakan kehendak juga pemikiran mereka pada orang lain yang belum tentu sesuai dengan mereka.
Mereka tidak mampu berpikir logis dan seimbang karena cenderung dibesarkan secara otoriter atau permisive yang mana keduanya akan menghasilkan sifat dominan dan intoleran. 
Sehingga ceramah-ceramah dan masukan-masukan  yang disukaipun yang sifatnya memprovokasi bukan klarifikasi. 
Kalau mengklarifikasi apa tanggapannya? Predijuce dan labeling karena memang itu yang terbiasa ada di sekitar mereka.
Mereka tidak akan segan mengatakan anak malas hanya karena mereka tidak berminat pada pelajaran tertentu atau tidak nyaman belajar di rumah dan memilih main.
Bodoh ketika seorang anak tidak mampu memiliki pencapaian dalam bidang tertentu tetapi mengabaikan kelebihan lain anak itu yang tidak dianggap berharga dan sepele seperti menyukai seni, olahraga, ketrampilan,  hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran. 
Sehingga ketika seorang anak tumbuh cerdas tetapi kemudian berbalik arah kemungkinan dia dibesarkan bukan dalam kondisi yang memang sesuai dengan yang bersangkutan tetapi didominasi banyak hal yang membentuk kecerdasannya bahkan kemungkinan menciderai kecerdasan bawaannya sendiri yang seringkali kalau mereka tidak berbalik arah mereka tidak memiliki kompetensi dalam pekerjaan mereka dan justru pekerjaan mereka yang menyesuaikan dengan kompetensi yang mereka miliki dengan melakukan hal-hal yang memang sesuai dengan kompetensi mereka pekerjaan mereka akan diatur sepanjang mungkin sesuai kompetensi sdm yang ada bukan berorientasi efisiensi apalagi kenyamanan pelayanan karena memang tidak ada kebahagiaan dalam keterpaksaan. 
Kebahagiaan kita temukan ketika kita mencintai sesuatu dengan segenap jiwa raga kita baru tumbuh keinginan untuk memberikan lebih bahkan ibaratnya jika mereka mencuri saja sebelum mereka lakukan mereka kembalikan dulu artinya apa mereka sangat berorientasi kepada kewajiban karena memang menyukai dan tidak merasakan terpaksa sehingga ketika mereka mengambil hak mereka itu karena memang imbalan yang memang pantas mereka dapatkan karena dedikasi dan sikap mereka yang sepenuh hati ketika mengerjakan pekerjaan mereka.  
Susah diatur adalah label untuk anak-anak yang ingin mengatur diri mereka secara mandiri apakah itu kesukaan mereka, prioritas mereka bahkan gaya belajar yang mereka inginkan juga cara berbicara dan berpikir.
Pelit, perhitungan dan egois adalah hal yang mereka tujukan pada anak-anak yang berusaha mengatur urusan mereka dengan efisien.
Banyaknya karakter-karakter yang dibonsai yang kemungkinan itu jadi modal mereka ketika menjalankan pekerjaan mereka dengan lebih efisien dan fokus. 
Bisa jadi karakter itu tidak dibutuhkan orang tua dan lingkungan mereka tapi sangat dibutuhkan pekerjaan mereka. 
Mereka memang selalu berusaha menanamkan kebaikan tetapi ketika itu dipraktekkan yang mereka lakukan memanipulasi, mendominasi, memihak, subjektif dan problem maker.
Seperti nelayan yang mencari ikan dengan pukat sudah jelas yang mereka lakukan itu salah hanya saja mengapa tidak ada pemikiran dari mereka untuk bersikap lebih konstruktif? Amanah, jujur dan cerdas. Mereka bisa membuat semacam komunitas dan mengajukan pinjaman untuk membeli kapal sehingga mereka bisa mencari ikan ke tengah lautan. Harga kapal memang tidak murah tetapi kalau mereka merasa itu kebutuhan mereka maka mereka pasti akan berusaha apalagi kalau mereka memang sudah terbiasa bekerja keras dan jujur tapi kalau sifat mereka tidak amanah dan jujur  maka membeli jaring ikan saja juga pasti masalah karena mereka tidak pernah mengatur urusan mereka dengan baik dan sering menempuh cara-cara yang desdruktif. 
Mereka juga bisa membuat semacam komunitas home industri untuk mendukung hasil tangkapan mereka dengan menggunakan kapal pasti lebih banyak ikan yang dihasilkan dan mereka bisa melakukan perluasan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan mereka juga mulai bisa menganggarkan mesin pendingin untuk menaruh produk-produk mereka dan mungkin kalau program mereka matang dan progresif pemerintah bisa memberikan bantuan untuk melancarkan usaha mereka apakah dengan memberikan pinjaman tanpa bunga atau lunak.
Alih-alih mereka menyelesaikan dengan cara konstruktif mereka memilih mendemonstasi aturan yang melindungi kepentingan mereka sendiri dan diprovokasi plus politisasi lagi dengan issue agama, pribumi dan golongan miskin.
Kemiskinan itu musuh bersama dan bisa menular kalau tidak tepat penanganannya.
Contoh: tahun 1988 pemerintah mengucurkan kredit besar2an untuk mendorong usaha masyarakat yang terjadi berujung krisis karena banyak kredit macet dan atau penyalahgunaan kredit.
Artinya tidak semua bisa dibebankan pada pemerintah apalagi kalau tidak didukung kompetensi, kapasitas dan integritas maka bukan solved problem but spread problem.
Kalaupun pemerintah ingin memberikan bantuan seperti insentif, bantuan modal atau bantuan bibit atau pupuk tentu harus jelas ditujukan pada siapa dan bagaimana kompetensi juga pencapaian mereka apalagi mereka yang semakin meningkatkan efisiensi mereka tidak ada salahnya mereka didukung dengan bantuan modal tanpa bunga jika memang mereka bisa mengembangkan usaha mereka dengan baik dan jika mereka bisa menyerap dan berfungsi secara sosial jangan segan memberikan insentif atau tax heaven atau kemudahan-kemudahan lain yang memang berguna bagi masyarakat secara keseluruhan.
Sehingga memang harus kerja cerdas dan cermat. If you choose the wrong apple you will make the wrong apple pies too.
Jetlag ini harus diklarifikasi bagaimana mungkin masyarakat yang ditumbuhkan dengan nilai positif tumbuh menjadi negatif? 
Permasalahan memang akan diatasi dan harus diatasi tetapi semua harus menimbang kondisi tidak bisa dengan modal memaksa tetapi akhirnya semua urusan kacau balau karena pada dasarnya tidak ada satupun manusia ingin berada dalam masalah sehingga pastinya mereka akan menuntut satu permasalahan bisa diselesaikan secara adil, proposional dan bijaksana dalam artian sebenarnya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM