Parenting

Son, Mother, Family, Mom, Bubbles, Soap Bubbles, Love

Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Setiap orang akan menjalani peran mereka sendiri sebagai orang tua dan mereka akan menjadi orang tua yang unik dan spesifik buat anak mereka masing-masing. 
Kalau pakai kacamata kita sendiri sepertinya kita orang tua terbaik yang ada di dunia dan begitu juga pemikiran setiap orang tua yang benar adalah setiap orang tua adalah terbaik untuk anak-anak mereka.
Tidak ada orang tua yang sengaja mengabaikan kebutuhan anak-anak mereka bahkan orang tua yang paling sempurna pun dan merasa telah memberikan segalanya pada anak mereka masih bisa dikejutkan dengan berbagai hal apalagi mereka yang memang tidak sempurna.
Pointnya bukan menghakimi setiap orang tua dan memasukkan mereka dalam kotak orang tua yang sempurna, kurang sempurna dan gagal.
Setiap orang tua menunjukkan rasa cinta mereka terhadap buah hati mereka dengan cara yang berbeda:

1. Memberi nafkah
2. Mengajarkan
3. Memperhatikan 

4. Mengurusi
5. Memenuhi
6. Mendelegasikan
7. Membebaskan
8. Mengendalikan
9. Memanjakan
10.Mengatur
11.Memandirikan
12. Mencukupkan
13.Melimpahi
14. Mengawasi
15. Melindungi
16. Mengerti
17. Memarahi
18. Mengapresiasi
19. Memfasilitasi
20. Membatasi
21. Menghukum
22. Mendikte
Apapun yang orang tua mereka lakukan adalah bentuk kasih sayang yang dikenali orang tua sebagai pengejewantahan kasih sayang terhadap anak-anak mereka. 
Mungkin kita bisa melabelkan mereka menurut kacamata kita bad parent, good parent or perfect parent.
Tidak ada orang tua yang dengan sengaja mengabaikan anak-anak mereka itu prinsip dasar ketika kita memahami lack of competence setidaknya menurut kacamata kita karena ada juga anak-anak yang justru menyukai orang tuanya memberikan ruang lebih pada mereka dan tidak berlaku ketat walaupun memang ada juga anak-anak yang merasa orang tuanya mengabaikan mereka karena berlaku membebaskan, terlalu sibuk bekerja atau melakukan kegiatan yang mereka sukai.
Ada kurang lebihnya satu kondisi. Ada anak-anak yang mencari kebijaksanaan mereka sendiri dan ada juga dengan arahan orang tua. 
Ada anak yang justru terjun ke dunia hitam dan bertato karena orang tuanya terlalu keras dalam mendidik. Mereka melalui hubungan orang tua dan anak yang sangat keras. Orang tua keras mendidik sampai dengan memukuli anaknya dan si anak keras menolak sampai lari meninggalkan rumah dan besar di jalan.
Si anak baru memahami bagaimana kasih sayang dan ajaran orang tuanya setelah melalui berbagai hal di jalanan. Mereka kembali dengan pengertian dan kasih sayang yang terhubung layaknya orang tua dan anak justru setelah melalui masa sulit hubungan mereka selaku orang tua dan anak.
Ada juga orang tua dan anak yang tidak mengalami hal menyakitkan tersebut dan berlangsung dengan ideal. Orang tua mengarahkan dan anak mematuhi. Kemungkinan ini karena karakter anaknya yang memang penurut apakah orang tuanya berlaku dominan atau tidak.
Kita tidak dapat memaksakan proses setiap orang berlangsung sama karena semua tergantung bagaimana penerimaan mereka masing-masing.
Tidak semua bisa menggunakan akal sehat dan logika mereka dengan baik seringkali mereka bersikap keras kepala karena menyakini apa yang mereka yakini itu yang paling baik dan benar.
Mereka hanya mampu memahami sesuatu dari persepsi mereka sendiri.
Seringkali kita harus mengabaikan dan membiarkan mereka seperti itu setidaknya untuk diri mereka sendiri dan jangan sampai memaksakan pada orang lain karena seringkali pemikiran itu jadi mencelakai orang lain karena mereka memaksakannya pada orang lain. Itu lah mengapa setiap orang harus saling menghargai dan menghormati batas masing-masing agar tidak saling mengganggu apalagi menyakiti. 
Tidak semua mampu menangkap penjelasan apalagi kalau mereka berasal dari sisi yang berbeda sehingga yang terbaik adalah tidak saling memaksakan pendapat dan cara pandang satu sama lain.
Membiarkan orang belajar dari pengalaman adalah cara terbaik orang untuk belajar memahami sesuatu karena seringkali kata tak mampu menjelaskan dan nalar tidak mampu menangkap tetapi melalui pengalaman hal itu dapat dipahami dengan baik tanpa harus dipaksakan apalagi diajarkan yang perlu kita lakukan adalah menjaga batasnya.
Saya memiliki pengalaman ketika mengasuh anak-anak ketika kecil dan mereka sangat rentan dengan pengawet dan msg ketika itu. Untuk memahamkan hal itu adalah sesuatu yang penting diperhatikan kami melalui banyak peristiwa yang menegangkan karena tentu saja mereka tidak percaya hal-hal yang mereka sukai itu bisa mencelakai mereka belum lagi tanggapan sinis dari mereka yang menganggap itu berlebihan tetapi semua ada waktunya itu satu hal yang perlu kita pahami dan memaksakan sesuatu yang belum berjalan dengan seharusnya adalah kesia-siaan karena seringkali semua memang berjalan sesuai tahapannya dan keadaan berubah tidak selalu dalam kondisi seperti itu dan kesepahaman tumbuh dari berbagai hal yang terjadi.
Kepercayaan itu proses. Pembuktian melalui serangkaian percobaan pemikiran dan juga peristiwa dan persis seperti bunga akan tumbuh ketika tiba waktunya mungkin ada lebah mengganggu. Angin kencang menggugurkan semua kucupnya. Benalu. Hama. Berbagai hal terjadi dan ketika saatnya tumbuh akan terjadi begitu saja.
Bukan karena bunga memiliki kesaktian atau kemampuan untuk menghalau segala gangguan tetapi alam dan takdir menjaga dan menggoreskan garisnya karena memang semua berdasarkan kehendak Yang Maha Kuasa dan bukan manusia dan bagaimana dengan segala hama dan benalu serta angin yang merusak, ulat dan serangga pengganggu lainnya? Sayangnya mereka tetap tercatat sebagai perusak walaupun mereka ada dalam beragam bentuk tapi mereka semua sama.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM