Politisasi

Politisasi sudah dikenal sejak jaman dulu yang gunanya adalah melebarkan masalah.
Dalam islam politisasi dikenal ketika Muawiyah dan Ali berbeda pendapat tentang menangani kasus pembunuhan Utsman.
Dalam islam politisasi dikenal ketika Muawiyah dan Ali berbeda pendapat tentang menangani kasus pembunuhan Utsman.
Politisasi juga terjadi ketika Aisyah difitnah berzina sedangkan kenyatannya jauh api dari panggang tetapi berita yang beredar menyebar luas tanpa bisa dikendalikan sehingga menimbulkan kemarahan Nabi dan meminta Aisyah melakukan Li'an.
Kalau jaman sekarang ini politisasi itu dikenal dengan hoax, bubble, fake news dan hiperealitas.
Politisasi adalah cara paling ampuh memblow up sesuatu naik ke permukaan dengan cara melakukan berbagai manipulasi dan juga dominasi yang dirugikan adalah masyarakat sendiri ketika mereka harus menghadapi permasalahan yang sebenarnya dengan cara yang logis dan proposional mereka termakan berbagai tekanan yang membuat masalah itu menjadi melebar dan meluas.
Politisasi ini sumbernya jelas subjektifitas, kedengkian, tidak mampu memahami apalagi menempatkan persoalan pada tempatnya dan tidak mampu mengambil batasan logis satu permasalahan.
Ibaratnya maling teriak maling.
Ketika kita tidak memahami posisi sebuah kasus sebaiknya kita tidak mengambil sikap apapun sampai dengan memahami keseluruhan masalah dengan komprehensif.
Pada masyarakat yang kontroversif memang rentan terjadi politisasi karena mereka tidak mampu menengahi apalagi memahami persoalan secara objektif dan komprehensif sehingga sikap yang mereka ambil adalah mendominasi dan memaksakan kehendak dari salah satu pihak padahal kondisi itu spesifik tidak selalu sama.
Bisa sama dan bisa juga tidak sehingga butuh ketelitian untuk mengidentifikasi dan juga klarifikasi.
Kesimpulan yang terburu-buru didapatkan karena penyesatan informasi atau ketidaklengkapan atau ada manipulasi atau politisasi di dalamnya.
Politisasi dengan sendirinya akan menghilang ketika satu masyarakat telah memahami persoalan mereka dengan baik. Mengenali mana yang potensi masalah. Mana yang solusi dan mana yang politisasi yang akan berakibat buruk pada mereka.
Ada masyarakat yang cepat belajar dan ada juga yang lamban dan mungkin memang tidak bisa belajar apapun.
Negara tetangga kita hampir kemasukan politisasi ketika Anwar Ibrahim mencalonkan diri untuk masuk ke dalam politik dan issue yang diangkat untuk memperkuat pencalonannya adalah issue-issue tenaga kerja bukan issue ini tidak tepat hanya saja untuk menangani permasalahan ini bukan dengan cara memasukkan paham baru yang bisa mengguncang masyarakat tetapi memberikan masukan bagaimana agar permasalahan ini bisa diselesaikan dengan baik karena setiap persoalan mustahil digenelarisir melainkan harus diperiksa satu per satu dan ini memang sudah jadi tugas birokrasi tersebut sehari-hari. Mungkinkah perubahan terjadi hanya dengan mengganti pemimpin apalagi pemimpinnya juga membawa kekacauan bagi masyarakat? Siapapun pemimpinnya mereka harus memperbaiki dengan cara-cara logis seperti memperbaiki sistem penanganan keluhan atau mengganti petugas-petugas yang tidak kompeten atau mengambil langkah antisipatif.
Ambisi berkuasa berlindung di balik politisasi ingin merusak ketentraman masyarakat dengan membawa sesuatu yang asing dan mungkin akan membuat masyarakat menjadi terpecah belah.
Politisasi pasti terjadi ketika salah satu pihak memang berambisi dan mendominasi karena hal ini diperlukan untuk membawa persoalan tersebut ke hadapan masyarakat dan membuat hal itu menjadi persoalan bersama. Preferensi bersama.
Kita mengambil contoh negara Jiran karena mereka fast learner dalam memahami mana yang bisa memecah mereka dan mana yang bisa merugikan mereka.
Ketika difloorkan ide untuk menjadikan proton sebagai mobil nasional mereka dengan legowo dan objektif mereka bisa menilai dengan tepat bagaimana kualitas engineer mereka dan hal itu jika dipaksakan pada mereka dan mereka memulainya dari awal tetapi hasil yang mereka dapatkan tidak maksimal karena keterbatasan yang mereka miliki dan itu mereka akui sendiri.
Sangat penting mengenali realitas dan bersikap objektif karena persoalan akan teratasi ketika kita memang bisa memilih solusi yang sesuai dengan kondisi bukan berdasarkan dominasi pribadi apalagi arogansi.
Memang benar kesombongan tertinggi bukan karena menyukai hal indah atau berlaku pongah tetapi menampik kebenaran yang akhirnya jadi boomerang bagi diri kita sendiri. Kebenaran bukan pembenaran.
Komentar
Posting Komentar