Poverty

Statue, Figure, Female, Sculpture, Mystical, Mysterious


Mengapa orang miskin pemarah sedangkan orang kaya pemurah? Ini hampir dikarenakan seringkali keterbatasan membuat mereka menjadi frustasi karena mereka seringkali memeliki kebutuhan yang sama besarnya bahkan lebih besar lagi kalau mereka memiliki beban kesahatan atau hal lain yang tidak berbeda kebutuhannya tetapi berbeda keadaannya. 
Yang terjadi di sebagian negara yang kurang memperhatikan angka kemiskinan mereka kerap terjadi kekacauan dan juga kebencian dikarenakan mereka kerap sibuk mencari penyebab kemiskinan yang harus mereka jalani tanpa bisa mereka hindari.
Sangat sulit mengharapkan komitmen dari mereka yang memiliki keterbatasan apakah karakter baik atau integritas karena seringkali mereka tergelincir dikarenakan beban hidup yang harus mereka tanggung.
Kemiskinan juga membuat sebagian negara mentolerir banyak hal walaupun itu akan menimbulkan kerusakan dan juga kerugian pada masyarakat mereka sendiri. 
Siapapun yang berada dalam keadaan tersebut kemungkinan bereaksi sama hanya suhu tempramennya aja yang berbeda berkisar 37,5 - 42 derajat celcius mendekati step. 
Itulah mengapa ketika pemerintah ingin mengambil kebijakan-kebijakan untuk mengarahkan masyarakat mereka dengan lebih baik apakah secara ekonomi, sosial dan politik mereka harus mengukur tingkat angka kemiskinan masyarakat mereka kemudian tingkat ketertiban umumnya baru kemudian berbicara tentang kebijakan.
Ketika masyarakat masih berada dalam kondisi terbatas maka fokus pemerintah bukan meningkatkan kemegahan tata kota melainkan pada penyelesaian-penyelesaian yang sifatnya kumulatif, efisien dan juga efektif. 
Banyak penolakan seputar relokasi karena mereka mempertimbangkan jarak kediaman mereka dengan usaha yang mereka lakukan untuk mata pencaharian.
Untuk mereka yang bekerja di kantor mungkin tidak keberatan memiliki tempat tinggal yang agak jauh karena mereka hanya bekerja di dalam kantor tetapi bagaimana mereka yang mengandalkan kehidupan mereka dari berusaha?
Pemerintah harus menyediakan berbagai alternatif disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ada berdasarkan kondisi mereka masing-masing. 
Lebih masuk akal jika pemerintah bekerja dengan pemilik kontrakan untuk menyediakan kebutuhan papan mereka dibandingkan memindahkan mereka ke tepat relokasi kecuali mereka mau merintis usaha atau komunitas baru akan tetapi seringkali pilihan bukan pada mau atau tidak tetapi efektif atau tidak hal itu memenuhi hajat hidup mereka. 
Bagaimana cara mereka bekerja sama dengan pemilik kontrakan? Tentu saja dengan menyediakan alternatif ganti rugi sehingga posisi mereka bisa sama saja sebenarnya dengan mereka yang pindah ke tempat relokasi mendapatkan pembebasan biaya untuk sementara waktu hanya saja ini mendapatkan semacam keringanan untuk menyesuaikan kehidupan mereka kembali.
Jika mereka mendapatkan pembebasan pembayaran sebanyak setahun atau dua tahun di tempat relokasi maka itu juga dimungkinkan jika mereka memilih kontrakan di sekitar tempat tinggal mereka belum tentu mereka dibangunkan apartement kalau memang mereka tidak bisa nyaman menjalani keseharian mereka bisa dengan membayarkan mereka selama waktu tertentu sehingga kondisi mereka bisa cepat pulih dan berlangsung kembali dengan normal.
Jika menyangkut tempat usaha yang akan digusur kemungkinan pemerintah akan lebih efektif jika membuat semacam kawasan usaha untuk mereka sehingga mereka merelakan tempat mereka digusur dan mereka tetap bisa melangsungkan kehidupan ekonomi mereka dengan baik.
Pemerintah juga perlu memfasilitasi dialog dan komunikasi terbuka agar tidak sia-sia apa yang pemerintah lakukan sehingga masalah menjadi double (belajar dari pembuatan blog G yang sebelumnya memang sudah banyak kontroversi dan pedagang berebut memberikan pendapatnya tetapi pemerintah tetap saja pada pendiriannya membangun tanpa memperhatikan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dan akhirnya menjadi masalah).
Bagi mereka yang tidak mampu membayar apakah karena sudah lanjut usia seharusnya mereka dititipkan pada rumah singgah atau yayasan-yayasan yang memang memiliki kepedulian pada lansia dan kaum papa mungkin selama ini mereka bisa hidup dari mengemis atau berjualan asongan atau uluran bantuan masyarakat sekitar yang menaruh belas kasihan dan tiba-tiba harus digusur. Sudah pasti mereka akan mengalami kesulitan dalam berbagai hal sedangkan solusi pemerintah hanya satu merelokasi dimana sesama penghuni relokasi sendiri belum tahu apakah kehidupan mereka bisa berjalan normal kembali bagaimana mereka bisa memperhatikan orang lain kalau diri mereka sendiri belum selesai?
Seharusnya Pemerintah mengklarifikasi permasalahan terlebih dahulu dan mendalaminya siapa yang merasa nyaman dengan relokasi dan apa latar belakang mereka dan mengapa mereka memilih relokasi. 
Sedangkan untuk yang menolaknya perlu diketahui alasannya dan bagaimana penyelesaian yang lebih efektif agar kehidupan mereka bisa kembali normal dan masalah bisa diselesaikan dengan baik? 
Arogan dan otoriter jika menyediakan jalan keluar hanya satu dan memaksakannya sedangkan jika dipaksakan akan timbul masalah baru karena keterbatasan kondisi. 
Tentu saja harus ada kejujuran juga dari mereka yang direlokasi bukan hanya sekedar mencari kesempatan dalam kesempitan hingga memboikot kepentingan masyarakat. 
Keterbukaan dan kejujuran juga keamanahan akan menyelesaikan persoalan karena masing-masing pihak tidak ingin memanfaatkan pihak lain untuk kepentingan mereka dan fokus mereka murni menyelesaikan masalah mereka sehingga tidak menimbulkan masalah atau menjadi trouble maker melainkan solusi maker. 
Bagi mereka sama baiknya relokasi, mengontrak atau ganti rugi atau kembali ke tempat asal mereka selama memang itu jalan keluar dan mereka memang harus mendukung kepentingan publik sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.
Selama itu realitas murni atau fakta maka itu bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam menyempurnakan kebijakan pemerintah tetapi kalau bersifat hiper realitas atau buble tentu saja hal ini disikapi dengan edukasi, kesabaran juga pengertian.
Bisa juga ditempuh jalan persuasif yaitu tidak dipaksakan melainkan memberikan alternatif dan memberikan ruang untuk mereka dengan berpikir dan menimbang. 
Bagi mereka yang merespon relokasi dengan baik langsung diapresiasi dan biarkan saja semua berjalan alami dan fokus pada program-program yang bisa menyempurnakan relokasi itu sendiri dengan membiarkan masyarakat mengelola space lahan yang disediakan untuk mereka apakah untuk berkebun, beternak ayam membuat pupuk mengingat pupuk dibutuhkan petani dan kalau mereka bekerja secara komunitas dan kolektif maka pengaturannnya bisa lebih baik karena diatur bersama dan secara bahu-membahu atau hal lain yang mereka anggap bisa bermanfaat mendukung perekonomian mereka.
Keberhasilan-keberhasilan relokasi akan memancing masyarakat meminta relokasi dibandingkan lainnya karena mereka rasakan langsung manfaatnya apalagi kalau relokasi juga dilengkapi dengan perhatian terhadap kebutuhan ibadah mereka, sekolah, kesehatan dan juga tempat usaha.
Dibandingkan menyediakan pemukiman yang belum tentu masyarakat mampu mengusahakannya lebih baik perbaiki program-program relokasi sehingga jakarta bisa ditata lebih baik baik tata ruangnya, reboisasi juga lahannya karena jika relokasi terus disempurnakan bisa saja ada relokasi masyarakat tani perkotaan jakarta dan ini jauh lebih baik dan bermanfaat karena sudah pasti mereka akan bisa mensuplai beras yang murah karena bisa langsung dipasarkan.
Relokasi dengan tematik akan membawa perubahan yang progresif pada masyarakat karena mereka bisa membentuk komunitas sesuai dengan interest mereka apakah sebagai nelayan atau penjual atau penghasil makanan berbahan ikan, petelur atau peternak atau hal lain yang mereka anggap bisa membawa nilai tambah bagi keluarga mereka dan edukasi juga sehingga mereka tidak perlu lagi mengganggu ketertiban umum dan mengganggu keseimbangan lahan juga cadangan air tanah. Hal ini bisa menyelesaikan banyak masalah dengan berfokus dan improvent pada kebijakan yang tepat bagi masyaraka.
Kalaupun mau dibangun pemukiman bagi masyarakat menengah ke atas maka kemungkinan bangunan yang cocok adalah vertikal agar tata ruang bisa dibenahi dan jakarta juga lebih hijau dan juga bisa diperbaiki resapan airnya. 
Jika menyangkut menengah ke atas maka cicilan mereka bisa masuk sesuai dengan pendapatan mereka dan wilayah mereka juga bisa ditata lebih modern dan asri sesuai kebutuhan mereka.
Bangunan vertikal juga menghemat pbb, lebih ramah juga seimbang secara lingkungan serta mereka lebih aman dari ancaman banjir, ketidakseimbangan ruang dan juga terhindar dari krisis air tanah jika reboisasi digalakkan di Jakarta sekaligus menyelesaikan masalah longsor serta resiko tenggelam.
Hanya saja yang perlu dicari tahu apa yang membuat masyarakat enggan beralih dari pemukiman horizontal ke pemukiman vertikal?
Kemungkinan fasum, design, terbatasnya parkir itu sangat menyulitkan mereka yang memiliki kendaraan lebih dari satu dan seharusnya memang mulai dipikirkan membuat gedung parkir yang asri yang juga bisa menampung mereka yang ingin berdagang dan tidak perlu mengganggu ketertiban umum dan mereka bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka termasuk mengontrak rumah.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM