Prosedur

Surgery, Hospital, Doctor, Care, Clinic, Disease

Paling males ngeladenin orang yang cara pikirnya tidak nyambung tapi kadang bingung juga apalagi temen sendiri.
Prosedur itu sesuatu yang sangat penting dan memang wajar ditetapkan gunanya jelas menetapkan standart kehati-hatian dan minimal pelayanan atau kepuasan pelayanan.
Sebagai pengacara (pengangguran banyak acara) saya kerap lah memberikan komen-komen dan juga sering ditanggepin secara sinis dan yaitu menurut saya sih gak nyambung tapi tidak menurut yang bersangkutan. Standart saling komen di medsos. Masing-masing suka merasa frustasi dan menganggap lawan bicaranya gak nyambung.
Ketika saya menulis prosedur bantuan bagi mereka yang terkena musibah bencana salah seorang temen sekolah saya menanggapi, "apakah kamu sudah ngirim bantuan?"
Itu lah kalau kita terbiasa berpikir tanpa konteks dan kalau saya kirim bantuan juga apa ada bedanya apalagi kemampuan saya paling 50 ribu paling banyak 100 ribu apa ada bedanya buat mereka? 
Mungkin temen saya tidak tahu ada kaidah bahwa tidak semua bantuan itu bermanfaat dan dibutuhkan atau dengan kata lain kebaikan tidak semuanya dibutuhkan apalagi kalau tidak sesuai konteksnya tetapi kalau kita memberikan masukan dan ternyata masukan itu bermanfaat dan itu dijalankan maka itu akan jadi kebaikan yang sangat bermanfaat dan bisa jadi memang mereka butuhkan secara kondisi.
Walaupun saya tidak memiliki kemampuan apapun. Tidak memiliki penghasilan sendiri ataupun karir yang bisa diandalkan apalagi dibanggakan tetapi bukan berarti saya tidak bisa menyumbangkan pikiran yang mungkin lebih dibutuhkan dari pada uang  atau kalau saya memiliki karir yang kemungkinan hanya berguna bagi diri saya sendiri dan kepuasan pribadi itupun kalau saya memenuhi kompetensi dan kapasitasnya. Tidak ada jaminan uang dan karir saya bermanfaat untuk orang lain. Tidak selalu demikian karena pencapaian, penghasilan dan juga kebutuhan setiap orang tidak sama begitu juga dengan preferensi mereka tetapi setidaknya mereka tidak menjadi beban lingkungan dan sekitarnya itu sudah bagus. 
Ada memang yang dibutuhkan keluarganya,ada juga yang dibutuhkan pekerjaannya dan ada juga yang dibutuhkan lingkungannya kompetensi dan preferensi setiap orang berbeda sehingga perlu disikapi secara bijaksana.
Setiap orang pasti berusaha menyeimbangkan kehidupan mereka tetapi itu tadi kembali pada preferensi juga kompetensi dan kapasitas mereka masing-masing.
Sebagai pengacara (pengangguran banyak acara) saya memiliki waktu yang luang dan berlimpah  sehingga bisa mengamati dengan lebih detail apa saja yang jadi masalah ketika bantuan itu diberikan. Memang secara awam tapi tetap aja itu merupakan pengamatan apa yang saya baca di medsos sebagaimana penggiat medsos lainnya. 
Ketika bencana tsunami Aceh banyak masyarakat di sana mengeluhkan bantuan yang ada. Loh kok ngeluh?
Kalau yang bakat nyinyir kebayang deh apa aja itu tanggapannya.
"Gak bersyukur...Udah sukur dibantu."
Tapi memang bantuan yang diberikan itu tidak mereka butuhkan walaupun berlimpah yaitu berupa baju ada sekitar dua ton dan itupun dalam keadaan berlumut karena mungkin di perjalanan mengalami berbagai hal.
Ternyata masyarakat Aceh itu tidak suka pakai baju bekas orang lain walaupun mereka kena musibah tetap saja hal itu mereka keluhkan tentu saja hal ini bukan jadi acuan kalau memberikan bantuan harus serba baru. Idealnya begitu tapi kalau kondisinya demikian bagaimana?
Salah kah mereka? Tidak juga sebenarnya selama itu didukung kemampuan karena di luar negeri juga mereka lebih nyaman mendapatkan yang baru daripada yang bekas walaupun mereka terkena musibah. 
Ini baru intro belum kesimpulan akhir dari apa yang saya amati di medsos.
Mereka juga kerap mengeluhkan tempat pengungsian yang tidak layak sehingga mereka kerap kedinginan, kehujanan belum kelaparan bahkan terkena penyakit karena kotor dan tergenang air di sana sini.
Mereka juga kerap mengeluhkan air. Sulitnya air sedangkan mereka butuh air untuk keperluan ibadah mereka kalau muslim dan mandi juga bab dan bak.
Mereka juga mengeluhkan sanitasi tempat pengungsian seringkali mereka terkena penyakit karena buruknya kondisi tempat penampungan membuat mereka sering terkena diare dan penyakit  lain.
Mereka juga mengeluhkan kekurangan makanan. Bantuan yang kerap diberikan mie instant atau biskuit sedangkan mereka kelaparan dan membutuhkan makanan yang lebih mengenyangkan juga menguatkan mereka.
Bantuan kesehatan untuk mereka yang sakit berupa obat-obatan dan petugas medis.
Itu pengamatan dari yang saya dapatkan dari sisi pengungsi sedangkan saya pribadi juga punya pengamatan adalah bantuan kerap diberikan sendiri-sendiri dan ini seringkali tidak maksimal bahkan tidak nyambung dan memang bantuan akan lebih bermanfaat dalam bentuk uang bukan barang kecuali yang benar-benar mereka butuhkan dalam keadaan baik. Karena jika bentuknya uang bisa dibelikan sesuai dengan kebutuhan dan keperluan mereka.
Menurut saya seharusnya pemerintah memiliki logistik untuk divisi bantuan korban bencana alam sehingga jika terjadi mereka bisa langsung menentukan dimana tempat pengungsian yang paling baik dan aman dan langsung memasang tenda-tenda yang mereka miliki, kantong tidur, selimut atau tempat tidur yang bisa dibongkar pasang. Toilet dan tempat penampungan air dan kalau kurang mereka bisa membeli kekurangannya dari dana bantuan yang ada.
Dan tidak perlu setiap bencana jadi ajang politisasi dan pencitraan karena biaya yang dikeluarkan itu lebih baik jadi makanan atau obat-obatan bagi mereka yang membutuhkan.
Seharusnya hal ini kan berjalan dengan sendirinya karena sudah merupakan prosedur pelayanan pemerintah bagi korban bencana.
Sehingga menurut saya prosedur yang seharusnya dimiliki pemerintah kalau terjadi bencana adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan tempat pengungsian dengan perlengkapannya seperti selimut dan tempat tidur yang layak dan kering sehingga para pengungsi terhindar dari penyakit diare dan penyakit lain karena buruknya sanitasi.
2. Menyiapkan ketersediaan air bersih bagi pengungsi juga toilet untuk mereka gunakan untuk mandi, bab dan bak.
3. Menyediakan dapur umum untuk melayani kebutuhan pangan mereka dan ini bisa dengan bantuan dari pengungsi sendiri, tidak harus petugas khusus kalau ada diantara mereka yang pintar memasak dan tidak keberatan memasak bersama-sama untuk kepentingan mereka semua untuk mengurangi stress juga yang penting disediakan alat-alat masak dan bahan-bahan makanan dan peralatan makan dan minumnya.
4. Menyediakan obat-obatan dan petugas medis juga ambulance jika diperlukan.
5. Menjaga sanitasi dan kebersihan lingkungan pengungsian dan ini juga bisa dengan gotong royong.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM