Provokasi

Storm Clouds, Clouds, Cumulus, Threatening, Summer

Provokasi itu ketika kita menzoom sesuatu seperti halnya foto dan seringkali karena terlalu besar akhirnya fotonya jadi pecah dan malah gak keliatan jelas. Blur.
Provokasi selalu diikuti dengan demonstrasi mengapa demikian?Karena memang dalam provokasi yang dikedepankan dominasi bukan klarifikasi apalagi komunikasi dan kalaupun ada komunikasi sepihak bukan komprehensif. 
Dalam menghadapi provokasi dibutuhkan kejujuran dan juga sikap terbuka terhadap klarifikasi yang akan dilakukan karena percuma mau gelar klarifikasi berapa kali pun tapi kalau mengabaikan yang memang benar dan logis ya gak ada gunanya juga karena kan yang dibutuhkan itu sikap dan solusi yang tepat meneliti mana yang memang benar dan mana yang tidak. Ketepatan dalam menangani persoalan sesuai dengan kondisi mereka masing-masing.
Ibarat hujan yang keliatan suara petirnya aja sahut menyahut tidak bisa dilihat apakah hujan itu bermanfaat atau tidak?
Hujan itu ada dua jenis bermanfaat dan juga sebaliknya kalau dalam konteks azab seperti hujan selama 30 hari ketika Allah mengazab kaum nabi Nuh yang telah melampaui batas karena kesukaan mereka yang suka berbuat kesyirikan dan menjadikan orang-orang sholeh mereka sebagai sembahan dan membuatnya sebagai patung-patung.

Kalau ada azab atau musibah turun sudah pasti karena perbuatan manusia hal itu jelas dikatakan dalam kitab suci.
Hanya saja kadang kita sebagai manusia tidak sadar akan kesalahan kita.
Mereka yang kerap memenuhi sungai tidak sadar itu bisa membawa dampak banjir. Mereka yang suka membuang sampah sembarangan juga tidak sadar itu akan kembali dalam bentuk musibah kepada mereka. 

Sifat iblis dalam diri manusia membuat mereka terhijab dari yang namanya kebenaran sebagaimana Iblis tidak terima kalau Adam ditunjuk sebagai khalifah karena merasa ibadahnya jauh di atas Adam. Dia telah beribadah selama 1000 tahun lamanya dan terbuat dari api. Sedangkan Adam? Itu juga karena perintah bukan karena nafsu ibadah mana dari tanah lagi. Ibaratnya udah gak level pengabdian juga pake spk. Disuruh apa gak. Dilarang apa gak. Boleh apa gak? Kok gak kayak sayah kreatif ibadah gak pelit2 maklum namanya juga dari api gitu loh...menerangi sekalian membakar...
Sifat merasa lebih tinggi ini yang kerap menghijab manusia dari kebenaran. Akhirnya menimbulkan musibah karena memaksakan sesuatu yang memang salah dan tidak benar dipaksakan jadi benar akhirnya menuai bencana.
Seringkali manusia merasa tertipu bukan dari kelemahannya tapi kelebihannya. 

"Masak sih saya kerja nunggang nungging kayak gini gaji kecil terus?"
Ternyata pertimbangan itu karena sifat tidak jujur dan tidak amanah yang menyertai yang lupa dipotret. Cekrek...cekrek...
Yang di zoom yang kelebihannya aja tapi kekurangannya? 
Memang yang jadi korban akhirnya yang jujur, amanah dan pekerja keras, "lo sih sok alim. Coba ikut zig zag. Selamet."
Padahal kebijakan itu diambil karena banyak yang zig zag dibanding banyak yang jujur dan amanah.
Kalau amanah dan jujur kan bisa kaget sendiri kalau ternyata ada kelebihan dana padahal semua sudah dipenuhi kok masih sisa? Atau karena efisien, budget jadi berlebih dan akhirnya kan yang namanya rejeki gak kemana balik juga dalam bentuk yang halal dan tidak mengganggu hak orang lain. 
Mulai masuk akal menaikkan gaji karena adanya kelebihan dan makin masuk akal lagi memberikan tunjangan dan bonus karena memang surplus. 
Kita sebagai manusia pihak yang dihukum mana bisa melihat kesalahan kita sendiri tapi mungkin orang-orang yang mengalami dampak dari perbuatan kita bisa tahu.
"Rumahku kebanjiran karena kamu rajin buang sampah."
"Kamu kan juga..."
"Ya tapi kan gak sebanyak kamu..."
Memang melihat kuman di seberang lautan semua bisa tapi gajah depan mata tidak bisa jadi kalau mau tahu kesalahan kita tanya orang lain jangan diri sendiri gak bakal bisa karena pasti kesimpulannya lagi-lagi, perasaan gue udah oke banget...

Yang sering menjadi masalah juga ketika prosedur kehati-hatian dilanggar. Cautiuosness and comprehensive itu bukan sesuatu yang berlebihan justru sangat dibutuhkan sehingga kita bisa meminimal resiko dan melakukan sesuatu dengan benar dan tepat. 
Care itu bukan dalam artian harfiah aja loh, yang keliling dari sabang sampe merauke liatin satu-satu. Cape deh...
Tapi peduli dengan standart kehati-hatian dan mau berpikir lebih teliti untuk meningkatkan pelayanan dan juga keakuratan ketika mengambil keputusan.

Kita sering benci sama Pemerintah padahal tidak semua kebijakan pemerintah itu salah  yang kita benci cukup yang ngaco aja karena bikin musibah tapi kalau gak bikin bencana malah bikin bahagia ya jangan ikut dimusuhin dong...
Itu gunanya koreksi dan klarifikasi bukan provokasi apalagi dominasi. Iya kalau bener gak apa-apa lah kalo udah salah, ngotot dan orang lain jadi korban. Pan berabe...
Pemerintah memberikan insentif kita curiga pas dicek. Perusahaannya udah lama komitmen ngurusin urusan masy kita dan mereka juga memberikan lapangan kerja yang baik. Banyak yang suka bekerja dengan mereka karena ya itu antara beban pekerjaan dan upah seimbang. Cincay istilahnya. Cuma karena provokasi jadi benci. Mendadak bagai nila setitik rusak susu sebelanga. Padahal kan cukup nilanya aja yang dibuang bukan susunya ditumpahin semua. Mau juga membenahi lingkungan dan mau ikut aturan. So Sweet kan? Belum laba yang dihasilkan? Ya masak ngelarin urusan masyarakat pake defisit ya pake laba atuh ibarat suami ngasih nafkah isteri pake debit atuh masak kredit card?
Makan dua piring ditagih debt collector setiap hari. Ini namanya sepiring berdua pake kredit card bukannya kenyang malah kelaperan dan ketakutan. 

 Belum peralatan dan bisnis mereka sudah lama dan kalau dihentikan begitu aja apa bisa kita meneruskan dan seperti apa kira-kira jadinya? Jangan berpikir mubazir. Efisien dan menimbang dengan teliti mashlahat dan mudhorot satu urusan. 
Keahlian setiap orang berbeda-beda begitu juga dengan rejekinya tidak perlu kita questioning terus yang penting kita sendiri paling bisanya apa nih buat mengimbangi memberikan manfaat yang lebih mumpuni. Prestasi dibalas prestasi bukan dengan dengki apalagi mencuri. #benerin krah. 
Oh ternyata UKKM itu paling diminati dan tumbuh subur. Ternyata kemandirian toh...
Dari sini aja kita udah bisa liat gimana karakter real masyarakat kita. Mereka mandiri. Mereka juga kreatif dan jeli dalam mengenali kebutuhan masyarakat. Produk-produk UKKM laris manis di pasaran karena mereka paham maunya ibu-ibu rumah tangga murah, enak, safety dan banyak. Ups!
Ya kan ibu-ibu rt tau sendiri dah maunya ampun produk aman buat keluarga mereka, rasa enak tapi harga terjangkau dan awas kalau cuma sedikit #tepok jidat. 
Lah ibu-ibu rt kalau kagak ekonomis menang cantik doang mana mau suami meminang kan? #ehem.
Ya begitulah intinya memang yang paling terhubung antara konsumen dengan karakter masyarakat asli memang UKKM.
Kemandirian ini terlihat lebih jelas lagi pada pekerjaan petani, nelayan, peternak dan pkl. Yang mereka keluhkan kalau tidak ada ketersediaan bibit, pupuk,  pakan dan tempat untuk berdagang itu wajar bagaimana mau produksi kalau tidak didukung kelengkapannya?
Masalah harga jual juga pasti jadi perhatian karena tidak mungkin masyarakat membeli produk lokal mahal hanya berdasarkan rasa nasionalis sedangkan penghasilan mereka mau nasionalis atau tidak, tidak pandang bulu ketek. Bau soalnya...hehehe...
Terserah lah yang jelas semua itu harus logis si rantai ekonomi ini gak bisa egois dalam menetapkan proses karena kalau produksi aja tapi harga sulit dijangkau jadi boomerang juga kan ujungnya banyak yang rugi dan stop produksi sehingga memang harus masuk akal antara input dan output berimbang.
Jangan sampe kita kayak nelen biji duren. Hore panen padi lokal kita melimpah...Horeeee...
"Beli beras bu, dua liter." nyerahin uang lima belas ribu 

"Kurang lima ribu bu..."
"Oke, gak apa2 yang penting saya mah berasnya lokal... Gak mau sayah dijajah produk impor."#Kompor.
"Ini bu..."
"Kok cuma segini? Saya kan beli dua liter. Ini cuma seliter. Jujur bu, amanah. Takut sama Alloh."
"Dua liter empat puluh ribu, bu... Ibu pan cuma kasih dua puluh ribu..."
Guling-guling.
"Bu..bu tenang...tenang...pake beras ini aja dua liter."
"Tadi katanya dua puluh ribu seliter."
"Impor bu ini lebih murah."
"Eh, gak mau saya makan beras penjajah. Emang situ gak punya nasionalisme. Gimana mau maju ini negara. Beras aja dari penjajah mana bisa berkah."
"Ya udah ini."
"Apaan nih?"
"Nasi bungkus saya berasnya lokal. Nasi padang asli belum diapa-apain. Dua puluh ribu. Pake ayam lagi."
"Hadeuh..apaan2 sih? Ini buat makan sekeluarga bu, bukan saya sendiri. Ibu jangan main-main sama saya." Melotot.
"Ya udah ibu maunya apa?"
"Beras lokal harga impor."
"Ibu aja udah nanem sendiri."
"Lah kok gituuuuuu..." huaaa nangis tambah kenceng
Kita perlu cari tahu juga kenapa antara harga jual dengan daya beli gak connected?
Harusnya kan harga jual itu sesuai dengan daya beli masyarakat jadi masyarakat juga bisa menyerap dengan baik produksi yang ada dan jangan sampai malah jadi pada demo karena mereka gak bisa beli beras sedangkan gaji suami mereka sejak nyonya meener berdiri sampe nyonya meneer berlari (hiperbol) makin mungil aja dipangkas semua kenaikan harga barang sangking itu gaji setia banget angkanya sedangkan harga barang-barang pada berkhianat. Akhirnya kejang-kejang karena kudu belanja tapi duitnya gak sisa. Masak beli beras doang, gak beli minyak, gas, belum jajan anak.Belum beli lauk pauk. Uang anak sekolah? Kalau ada yang sakit? Belum ongkos suami masak ngesot? 

Belum pengeluaran lain-lain? 
"Bune mbok ya hemat..."
"Maksudnya?" sambil memilin serbet. 
"Kamu itu mbok ya ngerti suami. Minta naik uang belanja terus apa ndak tau sih kalau gajiku itu flat?"
"Lah gak apartement aja pak ne?"
"Bune!!!" sambil milin kumis. 
"Lah aku yo piye to...Semua udah tak hemat. Wong nyuci juga udah ndak pake sabun."
"Buneee! Pantes tengik! Tenan sampeyan iku...Tega mentang-mentang gajiku sa'uprit. Begitu caramu memperlakukan suami? Pantas aja sak kantor melebu begitu aku masuk." melintir makin kenceng. 
Kepret2 serbet dengan gemas," ya mau gimana loh. Uangnya tak belikan ayam pak ne..."
"Aku ndak liat ayam kemarin itu..."
"Lah itu kan pepes ayam pak ne..."

"Lah kok kayak bulu ayam?"
"Iya pak ne, pepes bulu ayam maksudku. Kemoceng. Murah cuma lima ribu..."
"Kamu itu nemen. Pantes alergiku kumat...Aku aja minta naik gaji di kantor diseneni.Lah kamu itu bolak balik minta tambah uang belanja gak pake perasaan. Emangnya aku bisa menggandakan uang?"
"Fotokopi aja pak ne..."
"Wis sakarepmu..."
Kejanggalan-kejanggalan yang ada kadang mengundang tawa karena pemerintah seperti tidak mampu menengahi apalagi mengatasi keadaan yang ada. Sebenarnya memang perlu evaluasi mengapa bisa terjadi hal seperti ini. Dimana salahnya terjadi jetlag seperti itu? 
Karena kalau memang ada gap antara kebutuhan dengan daya beli maka akan melesu perekonomian karena mereka harus menghemat pengeluaran yang memang penting untuk mereka dan bukan karena mereka berfoya-foya apalagi boros. Tidak mempolitisasi akan sangat membantu evaluasi dan klarifikasi karena ini kan masalah bersama karena akan timbul ketegangan kalau banyak orang tidak bisa menafkahi keluarga mereka atau pengangguran dimana-mana dan ini yang menyebabkan kesensitifan dalam masyarakat.
"We have a good news and bad news. which one do you like to hear."
"Well, good news ofcourse..."
"Abundant local rice harvest."
"Wow! Thats great and what is the bad news?"
"We can not effort it."
???
Mungkin dengan masalah yang serumit ini kita harus berpikir tenang dan mengklarifikasi satu per satu dimana kesalahannya. Apakah salah prioritas atau pengamatan-pengamatan yang terburu-buru sehingga menimbulkan masalah?
Jujur pemerintahan kali ini sangat berat karena harus membereskan masalah yang seperti efek domino dan kalau tidak hati-hati dan tidak sengaja menyenggol maka?

Sehingga memang semua permasalahan harus diteliti secermat mungkin dan dicarikan penyelesaiannya agar tidak terjadi akumulasi masalah.
Kemungkinan memang impor masih dibutuhkan karena tidak mungkin mereka yang ekonominya pas-pasan dipaksa membeli beras di luar kemampuan mereka sehingga tetap harus ada beras dengan harga yang bisa mereka jangkau dan janganlah hal-hal ini dipolitisasi karena masalahnya akan makin blur. 
Yang pasti pemerintah tetap kritis dan sigap menangani semua permasalahan yang bisa memicu masalah menjadi lebih rumit dan openminded karena memang masalah-masalah tersebut harus diteliti ulang dan diperiksa lagi prioritas pemerintah. 
Secara garis besar prioritas pemerintah adalah:
1. Pemenuhan pangan ini yang paling utama dimana dalam hal ini masyarakat akan menjadi sangat tegang ketika kebutuhan pangan mereka tidak tercukupi karena mereka bukan malaikat yang tidak butuh makan dan minum sehingga tidak mungkin tidak menempatkan kebutuhan pangan pada agenda teratas.
2. Kemandirian ekonomi ini sangat penting untuk mengurangi beban pemerintah dan juga pengusaha karena keterbatasan mereka menciptakan lapangan pekerjaan dan juga mengurangi potensi sengketa buruh ketika harga barang tidak relevan dengan pemenuhan kebutuhan mereka mungkin memang mereka harus memiliki alternatif lain yang mungkin lebih sesuai. 

3. Kesehatan masyarakat juga bisa memicu ketegangan karena ini juga berkaitan dengan nyawa manusia dan bisa dibayangkan jika mereka tidak bisa mengusahakan pemenuhan kesehatan untuk keluarga yang mereka cintai?
4. Upah terutama mereka yang tidak terpenuhi cost livingnya memang perlu mendapatkan perhatian apakah dalam hal kenaikan upah jika perusahaannya mampu tetapi kalau tidak mampu dan kalau mereka gulung tikar malah jadi masalah baru mungkin memang pemerintah bisa mempertimbangkan untuk memberikan insentif dan atau bansos sehingga mereka juga tidak perlu panik menghadapi tekanan hidup yang mereka alami. 
Keempat hal ini pemicu ketegangan dalam masyarakat karena berhubungan dengan basic need mereka.
Bersikap lebih terbuka dan komprehensif akan sangat membantu dan tidak menjadikan masalah tersebut sebagai politisasi karena memang masalah yang ada tidak mudah dan ringan juga menyentuh langsung permasalahan masyarakat. 

Aspek lain bukan tidak penting tetapi ketika keadaan pemerintah sedang terbatas karena banyaknya tanggung jawab yang harus dipenuhi milikilah prioritas dan lakukan penghematan karena setiap sen yang keluar dengan percuma dan kurang manfaatnya bisa menjadi subsidi pupuk, bibit, pakan, bansos atau bantuan kesehatan. 
Milikilah empati di tengah penderitaan masyarakat bertahan hidup dan lebih fokus pada semua program yang berujung pada pengentasan dan atau penanganan kemiskinan juga kemandirian ekonomi.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM