Warga Negara Indonesia

Warga Negara Indonesia mayoritas berkarakter politikus dan makelar sehingga memang agak sulit ketika mencarikan pekerjaan yang cocok untuk mereka karena rata-rata mereka memiliki bakat yang besar dalam hal berbicara dan mendominasi sehingga memang mudah menjadi provokator dan mafia juga preman.
Dan ini sangat tidak menguntungkan negara dan juga dunia usaha karena cenderung tidak efisien dan biar mereka digaji murah atau tinggi tetap aja inefisiensi tinggi karena ini memang bukan masalah gaji tetapi karakter.
Mereka juga suka berbagi sayangnya tanpa pandang bulu dan itu juga kerap jadi masalah karena setiap urusan jadi seperti MLM.
Kalau mereka rame-rame terjun ke politik juga bukan tanpa udang di balik batu, ibarat gadis lah yang mencari calon suami mungkin bisa kira-kira digambarkan sebagai berikut:
"Selamat mas..."
"Apa dek?"
"Kamu terpilih."
"Syukur alhamdulillah. Akhirnya Tuhan memberikanmu hidayah. "
Cengar cengir.
"Kapan kita menikah?"
"Loh kok nikah?"
"Aku kan terpilih?"
"Iya, buat bantu keluargaku yang susah."
"Apa? Kirain udah dapat hidayah?"
"Lah kamu aja sukanya hura2. Emang bisa kayak gitu ngurus keluarga?"
Mengerutkan kening.
"Kegiatan sosial. Bukan hura-hura. "
"Tetep aja boros. Mendingan bantuin keluargaku, toh? Kan kegiatan sosial juga cocok kan?"
"Ini namanya janji surga."
"Bukan janji surga tapi mengurus keluarga itu dengan tanggung jawab dan harus mau meluangkan waktu. Ini daftarnya."
"Apa nih?"
"Sanggup?"
"Ya gak lah..."
"Lah trus kenapa mengajukan diri?"
Ini yang harus jadi pertanyaan kenapa berbondong-bondong orang mencalonkan diri mengurus negara dan masyarakat padahal kewajiban setumpuk dan juga larangannya banyak.
"Ayahmu kan katanya mau bikin rumah."
"Trus?"
"Trus?"
"Mendingan ke calon menantu aja kan?"
"Emang kamu kasih harga berapa?"
"Murah kok satu kavling cuma 1 M."
"Ukuran berapa."
"Standart 36."
"Ntar maintanance dikasih korting deh feenya."
"Masih pake biaya maintanance udah bayar segitu mahal?"
"Gak mahal lah segitu..."
"Ayahku perlu satu rumah sih."
"Duh anak segambreng bikin cuma satu. Sekalian 10."
"Lah itu buat sodara ayah kok. Kan udah pada punya rumah."
"Tapi kan baru satu. Udah 10 aja gak usah pelit-pelit."
"Ini bukan masalah pelit tapi gimana bayarnya itu."
"Gampang pake duit jangan daon."
"Gampang pake duit jangan daon."
"Iya emang tapi duitnya siapa?"
Kita tidak mau berpikir komprehensif seperti kita membutuhkan mobil murah untuk pertanian dan itu artinya kita butuh baja murah dan siapa yang bisa menghasilkan baja murah? Sepertinya memang Cina bukan dibanding krakatau steel apa bisa menjual mobil senilai 70 juta kalau bahan bakunya aja udah mahal sedangkan yang mereka butuhkan bukan luxury tetapi kendaraan yang bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari agar urusan mereka bisa lebih lancar dan mudah.
Baja murah juga bisa dipakai membuat tank sehingga kemungkinan memang bisa lebih murah alutista jika dibuat sendiri dibandingkan harus mengimpor.
Baja murah juga bisa dipakai membuat tank sehingga kemungkinan memang bisa lebih murah alutista jika dibuat sendiri dibandingkan harus mengimpor.
Kalau mobil pertanian bisa dibuat harga terjangkau karena efisiensi artinya untuk kapal nelayan, mesin pendingin dan peralatan untuk kelancaran produksi bisa juga kan?
Kita harus pisahkan kebutuhan konsumsi dengan produksi. Untuk konsumsi tidak nyaman pakai mobil cina karena masalah endurance dan purna jual. Begitu juga untuk transportasi publik sudah terbukti jepang terbaik karena bisa menyediakan alat transportasi yang relatif terjangkau dengan safety yang memadai, semua sepakat Jepang adalah yang terbaik dalam hal ini sehingga tidak seharusnya hal-hal semacam ini dibenturkan tapi kalau sudah punya tujuan lain pasti akan diutak-utik dan dibenturkan karena memang tujuannya sudah salah ingin memperkaya diri sendiri dan atau golongan bukan mengabdi pada kepentingan negara dan masyarakat.
Mereka yang dipilih untuk menangani kebutuhan dan urusan masyarakat karena memang bisa memenuhi requirement bukan karena azas kesempatan dalam kesempitan atau modus.
Mereka yang dipilih untuk menangani kebutuhan dan urusan masyarakat karena memang bisa memenuhi requirement bukan karena azas kesempatan dalam kesempitan atau modus.
Kalau kita mau maju, makmur, adil, damai dan sejahtera kita harus berikan kepada mereka yang memang bisa membantu melancarkan urusan masyarakat bukan sebaliknya.
Kebiasaan mencuri, pungli dan politisasi ini harus diubah karena kalau tidak, kita tidak bisa menilai sesuatu dengan tepat karena sedikit-sedikit hoax atau modus.
Disamping infrastruktur yang kita butuhkan juga ketersediaan bahan baku sehingga masyarakat bisa lancar berproduksi. Dan pastikan harga jual mereka sesuai daya beli dan kebutuhan masyarakat karena kalau tidak, akan terjadi overporduksi dan mungkin juga inflasi karena makin lama makin banyak yang berhenti produksi karena barang-barang mereka tidak mampu diserap pasar dan akhirnya jumlah uang yang beredar lebih banyak daripada barang dan itu juga menjelaskan mengapa ada negara yang harga satu buah mangga mencapai 1 milyar bukan karena mereka makmur tapi karena uang mereka tidak memiliki nilai karena inflasi yang terus meroket dan tidak terkendali.
Pilih mereka yang bisa menahan diri mengambil keuntungan secara berlebihan kecuali memang yang sudah jadi hak mereka saja.
Kalau kerja artinya gaji atau upah dan kalau berusaha artinya laba. Dari segi kepantasan aja apa pantas mengambil komisi proyek sampai 30 persen?
Kebiasaan mencuri, pungli dan politisasi ini harus diubah karena kalau tidak, kita tidak bisa menilai sesuatu dengan tepat karena sedikit-sedikit hoax atau modus.
Disamping infrastruktur yang kita butuhkan juga ketersediaan bahan baku sehingga masyarakat bisa lancar berproduksi. Dan pastikan harga jual mereka sesuai daya beli dan kebutuhan masyarakat karena kalau tidak, akan terjadi overporduksi dan mungkin juga inflasi karena makin lama makin banyak yang berhenti produksi karena barang-barang mereka tidak mampu diserap pasar dan akhirnya jumlah uang yang beredar lebih banyak daripada barang dan itu juga menjelaskan mengapa ada negara yang harga satu buah mangga mencapai 1 milyar bukan karena mereka makmur tapi karena uang mereka tidak memiliki nilai karena inflasi yang terus meroket dan tidak terkendali.
Pilih mereka yang bisa menahan diri mengambil keuntungan secara berlebihan kecuali memang yang sudah jadi hak mereka saja.
Kalau kerja artinya gaji atau upah dan kalau berusaha artinya laba. Dari segi kepantasan aja apa pantas mengambil komisi proyek sampai 30 persen?
Gak butuh peramal buat meramal proyek itu bakal mangkrak karena bisa dibayangkan pusingnya kontraktor harus menghemat budget yg mereka harus potong atau mereka ajukan nilai proyek lebih tinggi lagi kalau mereka harus memenuhi standat spesifikasi yang diminta?
Belum lagi kalau dibuat proyek rica-rica ini istilah untuk proyek-proyek yang gak jelas peruntukannya buat negara dan masyarakat tapi sangat jelas buat individu dan golongan dimaksud.
"Mbak, ini ayamnya?"
"Kok rica-rica, mas?"
"Adanya ini mbak..."
"Kan pedes mas, saya punya maag dan belum lagi saya gak suka pedes. Disini kan ditulis ayam goreng kremes, ayam goreng kecap dan ayam rica-rica. Saya kan nulisnya ayam goreng kecap, mas. Karena itu aman buat maag saya dan juga harganya gak terlalu mahal." Melotot galak.
Bukan tidak boleh kita mengambil untung lebih hanya saja kita harus liat kebutuhan dan juga dampaknya pada masyarakat seperti apa? Karena suku asmat menjadi tertinggal setelah dibantu pemerintah bukan sebelumnya ketika mereka mandiri. Artinya kemandirian mereka tidak boleh dihilangkan. Fungsi pengawasannya ditingkatkan sehingga mereka bisa meminimalisir dampak terhadap misalnya lingkungan atau hal lain.
Pemerintah kan punya divisi kehutanan dan juga lingkungan dan mereka juga digaji tidak ada salahnya kan mereka diaktifkan agar bisa membimbing masyarakat tetap mandiri tetapi juga menjaga batas logis seperti mereka tetap harus memperhatikan reboisasi dan atau keseimbangan lingkungan seperti limbah dan sampah juga lain sebagainya.
Pemerintah juga punya divisi perhubungan umum dan mereka ini yang bekerja untuk masyarakat dan pemerintah apakah satu daerah memang sudah harus dibuka akses ekonominya atau tidak. Dan standart pelayanan apa yang harus diberikan sesuai dengan perkembangan mereka yang ada dan kalau masih relatif sedikit yang C pun cukup.
Begitu juga dengan aspek sanitasi kalau memang di daerah itu sering terjadi gizi buruk karena mereka tidak memiliki kemandirian pangan dan juga sanitasi yang buruk maka ini harus diselesaikan bukan malah membahas hal yang tidak relevan seperti vaksin. Bagaimana mau divaksin kalau kondisi mereka aja masih lemah dan banyak penyakit itu kan sama artinya menambahkan penyakit.
Untuk vaksin juga harus logis karena kalau tidak akan berjatuhan korban. Asal pemberian vaksin itu untuk batita maksimal dua tahun dan itu bukan tanpa pertimbangan karena metabolisme tubuh mereka sangat baik dalam usia demikian begitu juga refleks mereka dan juga regenerasi sel mereka. Dan mereka juga masih dalam perlindungan ASi. Cautiousness semacam ini tidak dapat diabaikan karena memang sudah dengan pertimbangan yang matang dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan juga.
Fokus pada masalah akan menguntungkan berbagai pihak karena permasalahan bisa dilihat lebih proposional dan tidak selalu mengedepankan provokasi apalagi arogansi karena masalah safety harusnya menjadi standart kehati-hatian bersama.
Sesuatu itu kalau pas kita juga bisa merasakan harmonisasinya dan berjalan smooth karena memang sudah pada tempatnya.
Sepertinya tidak perlu menjelaskan lebih jauh kenapa urusan selalu gagal kalau dipegang WNI dan tidak mampu efisien?
Karena mereka selalu berusaha mengambil lebih bukan memberikan lebih.Bekerja menggarami laut dan bukan membuat laut menjadi garam adalah dua hal yang berbeda.
Akhirnya mau digaji atau laba berapa aja sama aja tetep aja istilah orang jawanya mbedol buri. Di awalnya aja keliatan murah tapi udah dijalanin bengkak sana sini kayak orang digebukin. Lebam-lebam.
Mungkin memang kita harus meneliti ulang apa permasalahannya yang membuat kita selalu inefisien?
Sebagai WNI kita tidak bisa menghindar dari tanggung jawab leadership tetapi ya itu dengan perbaikan kinerja, karakter juga prioritas dan menimbang segala sesuatu lebih komprehensif.
Bukan provokasinya yang dibanyakin tapi pemikiran komprehensifnya yang ditambahin jadi permasalahan bisa diselesaikan dengan lebih baik dan lebih baik lagi.
Belum lagi kalau dibuat proyek rica-rica ini istilah untuk proyek-proyek yang gak jelas peruntukannya buat negara dan masyarakat tapi sangat jelas buat individu dan golongan dimaksud.
"Mbak, ini ayamnya?"
"Kok rica-rica, mas?"
"Adanya ini mbak..."
"Kan pedes mas, saya punya maag dan belum lagi saya gak suka pedes. Disini kan ditulis ayam goreng kremes, ayam goreng kecap dan ayam rica-rica. Saya kan nulisnya ayam goreng kecap, mas. Karena itu aman buat maag saya dan juga harganya gak terlalu mahal." Melotot galak.
Bukan tidak boleh kita mengambil untung lebih hanya saja kita harus liat kebutuhan dan juga dampaknya pada masyarakat seperti apa? Karena suku asmat menjadi tertinggal setelah dibantu pemerintah bukan sebelumnya ketika mereka mandiri. Artinya kemandirian mereka tidak boleh dihilangkan. Fungsi pengawasannya ditingkatkan sehingga mereka bisa meminimalisir dampak terhadap misalnya lingkungan atau hal lain.
Pemerintah kan punya divisi kehutanan dan juga lingkungan dan mereka juga digaji tidak ada salahnya kan mereka diaktifkan agar bisa membimbing masyarakat tetap mandiri tetapi juga menjaga batas logis seperti mereka tetap harus memperhatikan reboisasi dan atau keseimbangan lingkungan seperti limbah dan sampah juga lain sebagainya.
Pemerintah juga punya divisi perhubungan umum dan mereka ini yang bekerja untuk masyarakat dan pemerintah apakah satu daerah memang sudah harus dibuka akses ekonominya atau tidak. Dan standart pelayanan apa yang harus diberikan sesuai dengan perkembangan mereka yang ada dan kalau masih relatif sedikit yang C pun cukup.
Begitu juga dengan aspek sanitasi kalau memang di daerah itu sering terjadi gizi buruk karena mereka tidak memiliki kemandirian pangan dan juga sanitasi yang buruk maka ini harus diselesaikan bukan malah membahas hal yang tidak relevan seperti vaksin. Bagaimana mau divaksin kalau kondisi mereka aja masih lemah dan banyak penyakit itu kan sama artinya menambahkan penyakit.
Untuk vaksin juga harus logis karena kalau tidak akan berjatuhan korban. Asal pemberian vaksin itu untuk batita maksimal dua tahun dan itu bukan tanpa pertimbangan karena metabolisme tubuh mereka sangat baik dalam usia demikian begitu juga refleks mereka dan juga regenerasi sel mereka. Dan mereka juga masih dalam perlindungan ASi. Cautiousness semacam ini tidak dapat diabaikan karena memang sudah dengan pertimbangan yang matang dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan juga.
Fokus pada masalah akan menguntungkan berbagai pihak karena permasalahan bisa dilihat lebih proposional dan tidak selalu mengedepankan provokasi apalagi arogansi karena masalah safety harusnya menjadi standart kehati-hatian bersama.
Sesuatu itu kalau pas kita juga bisa merasakan harmonisasinya dan berjalan smooth karena memang sudah pada tempatnya.
Sepertinya tidak perlu menjelaskan lebih jauh kenapa urusan selalu gagal kalau dipegang WNI dan tidak mampu efisien?
Karena mereka selalu berusaha mengambil lebih bukan memberikan lebih.Bekerja menggarami laut dan bukan membuat laut menjadi garam adalah dua hal yang berbeda.
Akhirnya mau digaji atau laba berapa aja sama aja tetep aja istilah orang jawanya mbedol buri. Di awalnya aja keliatan murah tapi udah dijalanin bengkak sana sini kayak orang digebukin. Lebam-lebam.
Mungkin memang kita harus meneliti ulang apa permasalahannya yang membuat kita selalu inefisien?
Sebagai WNI kita tidak bisa menghindar dari tanggung jawab leadership tetapi ya itu dengan perbaikan kinerja, karakter juga prioritas dan menimbang segala sesuatu lebih komprehensif.
Bukan provokasinya yang dibanyakin tapi pemikiran komprehensifnya yang ditambahin jadi permasalahan bisa diselesaikan dengan lebih baik dan lebih baik lagi.
Komentar
Posting Komentar