Overcome Corona
Kita berhadapan dengan resiko kematian setiap harinya mulai karena radiasi, racun dalam makanan dan minuman yang tidak bisa kita hindari, sakit bahkan kelaparan. Corona menambah daftar itu dan kalau ada virus baru maka mereka menambahkan resiko kematian pada manusia sehingga jangan ditambah dengan persoalan baru yang kita akibatkan karena kepanikan kita seperti panic buying, menelantarkan keluarga kita yang sakit, phk dan menambah kelaparan yang hanya bisa diobati dengan makanan.
Corona lebih banyak menyorot karakter kita sendiri sebenarnya. Kasus di India seorang lelaki dipersekusi polisi karena membeli susu walaupun kematian tidak menjemput polisi yang kejam untuk apa mereka diberi umur panjang kalau tidak bisa berempati dengan orang lain.
Sebelum Corona mereka persekusi muslim yang ingin membeli susu anaknya setelah Corona mereka persekusi semua masy India yang keluar membeli susu dan makanan buat keluarga mereka. Apakah kemajuan mereka dalam tidak melakukan diskriminasi bermanfaat kalau tidak disertai mengurangi sifat kejam mereka?
Orang tua yang mengeluh kedinginan dan sesak nafas karena diisolasi secara logika harusnya orang tua ini sudah menginfeksi dan menimbulkan kematian bagi seluruh keluarganya kalau memang semua berlaku secara konstan.
Kita sibuk menyalahkan rumah sakit, pemerintah tetapi tidak mengevalusi diri kita sendiri dan ketika kita menghadapi keterbatasan karena semua beban sudah diambil semua orang apa kontribusi kita untuk masalah kita sendiri?
Cari jalan keluar yang efektif untuk semua pihak. Kita bukan pihak yang menentukan hidup mati atau sembuh tidaknya seseorang tapi kita adalah pihak yang wajib berusaha sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita.
Minta pengobatan secara online atau wa dan pihak rumah sakit juga kooperatif jangan mempersulit mereka yang proaktif mengatasi masalah mereka sendiri dan kasih informasi yang jelas dimana obat itu dijual dan mereka harus hubungi siapa dan gunakan ojol dan kalau kita liat rantai usaha dan makanan tidak berubah hanya menyesuaikan dengan kondisinya tapi yang tidak pernah berubah itu sifat kejam manusia yang sering mempersulit orang lain atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan atau egois atau cuek.
Ambil beban kita sendiri dan ini akan sangat membantu sekitar kita dan berhenti menyalahkan pihak yang juga berada dalam kesulitan yang sama dan mungkin lebih besar.
Tidak bisa memberikan penanganan medis? Siapa yang bisa? Semua orang juga tidak mampu pada asalnya tetapi kalau sudah darurat siapa yang tidak bisa?
Ada pembantu yang bertugas memberikan suntikan insulin pada majikannya memangnya yang bersangkutan lulusan sekolah perawat atau kedokteran?
Perawat atau dokter yang melakukan kesalahan ketika merawat pasien pertama mereka memangnya mereka sengaja atau tidak mencoba melakukan perawatan dengan baik?
Kalau mau bicara kesalahan berapa banyak orang salah ditangani karena ketidaktahuan atau justru karena kecanggihan pengetahuan. Mau contoh?
Orang yang gagal ginjal karena di diagnosa ada kerusakan ginjal dan ternyata yang bersangkutan hanya infeksi saluran kemih yang bisa diatasi dengan antibiotik.
Kanker dikira pusing dan diberi obat pusing.
Apa salah kedua kondisi itu?
Bayi meninggal karena dehidrasi karena orang tua dan dokter ingin bayi tersebut mengkonsumsi asi? Atau orang tua enggan memberikan anak2 mrk tambahan susu formula walaupun anak2 mereka menghendakinya sedangkan si anak tidak suka asi ibunya atau asi ibunya tidak bisa memenuhi kebutuhan gizinya?
Pengetahuan memang canggih dan ibarat komputer tinggal ketika keluar semua apa yang harus diketahui hanya saja pencocokan kondisi ini selalu butuh pemahaman baru.
Jangan sampai, " anak saya mau kok asi, doyan asi banget, ibunya jangan males..."
Harusnya itu, " oh anak kamu gak suka asi ya beda dengan anak saya dan kenapa kamu tetap paksakan asi untuk anak kamu dan jadi stunting begitu?"
Atau ini juga benar" anak kamu gak mau ya formula maunya cuma ASI kamu padahal cuma sedikit kalau stunting ya kamu sabar aja yang penting anaknya kan sehat, abis mau gimana lagi anak kamu gak mau formula, maunya asi kamu doang walaupun gak cukup banyak..."
Belajar memahami dan mengenali kondisi dan kalau sudah bisa belajar memaklumi kondisi dan itu yang namanya manusia berusaha sedangkan Tuhan menentukan.
Manusia takabur kalau gak mau atau gak mencoba usaha tapi juga sombong kalau cuma mengandalkan usahanya tanpa mau memahami takdir.
Menghadapi Corona ini yang harus kita sepakati adalah:
1. Berusaha terbaik untuk kondisi masing-masing. Mereka yang terpaksa keluar rumah setiap hari untuk menafkahi keluarga mereka, jangan lupa mengenakan masker dan selalu cuci tangan sebelum makan.
Hilangkan ketergantungan dengan manusia lain dalam artian kita yang tahu bagaimana kondisi kita sendiri dan saling support dengan pihak-pihak yang memang terkait dengan kita sendiri.
Orang lain beropini boleh saja tetapi yang paling tahu diri kita sendiri apa situasi yang terbaik untuk kita sendiri.
"Kamu kok belum lockdown sih?"
"Emang kamu anterin makanan setiap hari ke rumah dan transfer tiap bulan ke rekening saya?"
"Gak sih, cuma kok ya kamu gak sensitif dan gak kayak orang beriman gitu?"
"Memang kamu kira kamu beriman apa? Gak peduli orang kelaparan dan gak bisa makan dan ngomelin orang cari makan buat nafkahin keluarga?"
"Lah, kok ngegas sih?"
"Lah ngana ngapa?"
2. Mengurangi hujatan-hujatan dan opini-opini yang hanya memperburuk kondisi apalagi menyesatkan. Lebih berpikiran terbuka dan jangan cepat menghakimi serta kurangi tuntutan yang hanya membebani situasi dan tidak memperbaiki kondisi sama sekali.
3. Corona ini mengajarkan kita agar memberikan alternatif dalam bekerja, belajar, berusaha dan beraktifitas yaitu langsung dan online sehingga ini juga bisa memudahkan kita dalam mengatasi keadaan dengan fleksibel dan lebih detail juga teliti dan apa yang paling sesuai dengan kondisi kita semua?
Jangan menyuruh buruh pabrik yang harus bekerja menjalankan pabrik untuk melakukannya secara online karena kan jadi farmville tetapi mereka yang bisa bekerja dan belajar secara online ini sudah tentu ini akan sangat efektif mengurangi kemungkinan penyebaran tanpa mengganggu aktifitas utama mereka dalam mencari nafkah dan belajar.
4. Yang tidak boleh itu melakukan panic buying karena ini sangat tidak sensitif tetapi berbelanjalah sesuai kebutuhan seperti biasanya karena Corona ini tidak membuat kegiatan makan dan minum terhenti. Tidak boleh lainnya enggan menggunakan masker keluar rumah padahal itu jadi kebutuhan rutin mereka karena mereka harus mencari nafkah atau berada dalam keramaian transportasi publik yang tidak bisa dihindarkan.
Tidak mau mencuci tangan sebelum makan. Enggan membersihkan diri dan pakaian kotor yang kita kenakan.
5. Lakukan hal-hal yang mampu kita lakukan dan jangan terlalu menyalahkan sesuatu yang terlewat. Mungkin bisa begini, jangan terlalu gembira dengan apa yang kamu dapat dan jangan terlalu sedih dengan sesuatu yang luput dari kamu. Artinya yang selamat dari Corona jangan terlalu gembira karena bisa saja kita selamat dari Corona tapi bagaimana dengan kejelekan, kezaliman dan kejahatan kita? Yang tidak selamat dari Corona juga jangan bersedih karena bisa jadi itu adalah termasuk sesuatu yang mungkin tidak kamu sukai tetapi itu baik bagimu. Setidaknya mereka yang tidak selamat dari Corona ini sebenernya sama dengan mereka yang tidak selamat dari dbd, racun, mati kelaparan, stroke, serangan jantung bahkan kelelahan. Mereka sudah diakhirkan dari kebaikan mereka sekaligus juga kejahatan, kejelekan dan keburukan mereka.
Sebab kematian itu beragam termasuk yang meninggal di tempat tidur. Kita tentu masih ingat kucing yang kelaparan dan kalau itu dibiarkan meninggal dalam keadaan lapar dan dikunci sehingga mereka tidak bisa mencari makan sendiri bagaimana dengan manusia?
Balance in thingking and feeling also deciding....Corona maybe can take away our life but not our sense...


Komentar
Posting Komentar