Virus Corona




Virus Corona seperti palu kematian bagi kita semua. Tubuh kita yang terdiri dari ruh dan juga jasad membutuhkan tempatnya sendiri-sendiri. Siapakah yang kita takuti?
Diri kita sendiri. Dosa kita sendiri. Kesalahan kita sendiri. Ketakutan kita sendiri. Kita semua takut mati mempertanggungjawabkan segala dosa dan kesalahan yang mungkin tidak mampu menyentuh kita di sini. Bukankah begitu?
Pasti begitu karena hal itu tidak menimpa mereka yang masih bayi dan suci, batita dan balita serta anak-anak yang masih terbungkus rapat dalam fitrah-fitrah mereka.
Tabir akan terbuka begitu kita memasuki pintu duka. Duka bagi mereka yang ditinggalkan dan duka bagi mereka yang harus mempertanggungjawabkan apa yang harus mereka pertanggungjawabkan.
Mereka yang bersuka adalah mereka yang berhasil melewati tipu daya dunia dan siapa mereka?
Hanya Tuhan yang tahu. Apakah mereka yang terbebas dari Corona atau mereka yang terkena Corona?
Sekali lagi hanya Tuhan yang tahu. Kematian sendiri bermakna ganda.Bagi mereka yang memiliki jiwa yang bahagia dan selamat adalah pintu kebebasan dan keleluasaan bagi jiwa-jiwa mereka yang terpenjara di dunia tetapi kematian juga adalah pintu penderitaan bagi mereka yang memiliki jiwa yang tidak selamat dan siapa yang menetapkan? Apakah kita semua? 
Sekali lagi bukan tetapi Dia yang Maha Kuasa.
Apakah kita harus takut atau tidak? Ketika ajal tiba maka dengan rasa takut atau tidak tetap akan tiba dan mengenali pemilik takdir kematian itu sendiri dan mereka tidak akan mampu bersembunyi atau berlari dari padanya.
Bayi lahir menangis karena takut dan kita semua juga menyongsong kematian dengan rasa takut.
Takut yang sama takut tidak bahagia dan takut tidak merasa nyaman.

Apa nasihat terbaik untuk keadaan saat ini? Kita menyadari sebagai manusia adalah sangat lemah. Kita memang bisa berusaha dan berdoa tetapi kita juga bisa memilih untuk pasrah dan berserah melakukan yang sebaik kita bisa dan mencoba untuk tidak terjebak dalam hal-hal yang tidak relevan serta tidak menyalahkan keadaan terutama yang benar-benar berada di luar kendali kita.
Lonceng kematian sesungguhnya selalu berdentang hanya saja karena kita berada dalam hiruk pikuk keramaian jiwa kita tidak mampu untuk mendengarnya dan begitu Corona tiba keadaan menjadi hening dan lonceng tersebut terdengar dengan sangat lantang membuat semua memperhatikannya dengan seksama.
Tuhan sedang memperdengarkan ketetapanNya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM