Mudhorot

Corona menghantui mereka yang kaya tetapi tidak menakuti mereka yang miskin papa. Kenapa?
Karena setiap hari mereka dibayangi resiko mati kelaparan yang mengharuskan mereka terus bergerak. Karena berhenti berarti mati.
Ancaman phk dan kelaparan membayangi mereka setiap hari. Mereka tidak memiliki tabungan, asset, investasi atau apapun yang bisa menghidupi mereka tidak hanya empas belas hari tetapi sampai mereka dan anak cucu mereka mati tidak habis harta tersebut dimakan.
Lockdown itu harus dibarengi dengan lookdown. Tidak semua orang memiliki simpanan harta yang diwariskan secara turun temurun atau tidak habis dimakan tujuh turunan.
Apa makna egois sebenarnya?
Corona dihadapi dengan menggunakan masker, beristirahat yang cukup, makan dan minum yang cukup, jaga daya tahan tubuh, cuci tangan sebelum makan sedangkan stabilitas ekonomi?
Dengan bekerja dan berusaha menghidupkan rantai dan cylcle of economics.
Apa ada orang miskin meminta lockdown? Kalau ada mereka pasti minta jaminan untuk bisa dijamin selama 14 hari. Masalahnya hidup manusia tidak hanya 14 hari melainkan setiap hari.
Walaupun mungkin awalnya Corona seperti tidak berdampak kepada mereka yang kaya tetapi lambat laun akan terkena imbasnya juga.
Karena yang kaya dengan yang miskin pada akhirnya saling membutuhkan seperti yang dikatakan kitab suci. Yang kuat membutuhkan yang lemah dan yang lemah membutuhkan yang kuat.
Asumsi-asumsi yang sifatnya emosi dan kurang teliti akan membuat keadaan semakin rumit kalau tidak benar-benar dipikirkan semua masalahnya dan dampak masalahnya.
Dari Corona ini tidak hanya wabah saja yang harus dipikirkan tapi bagaimana roda ekonomi bisa tetap berjalan dengan aman dan terkendali?
PHK akan menyumbang masalah lebih besar dalam hal daya beli, kemiskinan dan kriminalitas.
Apakah orang kaya bisa hidup tenang kalau kemiskinan meraja lela?
Penjarahan dan kerusuhan di depan mata kalau tidak dipikirkan semua akibat dan dampak karena mati karena corona atau karena lapar itu menjadi hal yang sama saja untuk satu keadaan dan dalam keadaan darurat manusia pun bisa dimaafkan sebesar apapun perbuatan yang mereka lakukan kalau itu terpaksa? Tuhan belum tentu menghukum dan berapa banyak petugas keamanan dan penjara yang harus disiapkan untuk kejahatan karena kelaparan yang merata?
Belum kredit macet juga di depan mata kalau masalah tidak ditangani dengan hati-hati wabah corona ini berhadiah depresi ekonomi dan overproduksi bonus malaise.
Karena yang kaya dengan yang miskin pada akhirnya saling membutuhkan seperti yang dikatakan kitab suci. Yang kuat membutuhkan yang lemah dan yang lemah membutuhkan yang kuat.
Asumsi-asumsi yang sifatnya emosi dan kurang teliti akan membuat keadaan semakin rumit kalau tidak benar-benar dipikirkan semua masalahnya dan dampak masalahnya.
Dari Corona ini tidak hanya wabah saja yang harus dipikirkan tapi bagaimana roda ekonomi bisa tetap berjalan dengan aman dan terkendali?
PHK akan menyumbang masalah lebih besar dalam hal daya beli, kemiskinan dan kriminalitas.
Apakah orang kaya bisa hidup tenang kalau kemiskinan meraja lela?
Penjarahan dan kerusuhan di depan mata kalau tidak dipikirkan semua akibat dan dampak karena mati karena corona atau karena lapar itu menjadi hal yang sama saja untuk satu keadaan dan dalam keadaan darurat manusia pun bisa dimaafkan sebesar apapun perbuatan yang mereka lakukan kalau itu terpaksa? Tuhan belum tentu menghukum dan berapa banyak petugas keamanan dan penjara yang harus disiapkan untuk kejahatan karena kelaparan yang merata?
Belum kredit macet juga di depan mata kalau masalah tidak ditangani dengan hati-hati wabah corona ini berhadiah depresi ekonomi dan overproduksi bonus malaise.
Komentar
Posting Komentar