Halal dan Haram

Sebagai pemikir pengangguran intelektual seringkali gue itu memikirkan hal-hal yang gue gak tau ini ada manfaatnya apa gak tapi menggelayut begitu aja di pikiran gue.
Ceritanya gue itu sekarang ini lagi suka banget liat iklan makanan-makanan online secara memang suka makan enak juga dan suka cari-cari harga miring tapi rasa nendang dan tanpa sengaja liat iklan abon sapi yang menggugah selera tanpa sengaja melihat percakapan antara penjual dan calon konsumen juga yang kayak gue juga kayaknya dan menanyakan label halal MUI yang sebenernya ini juga sering jadi pertanyaan gue yg memang pengennya simpel ya kita gak ragu itu makanan halal atau gak tapi gimana caranya secara real?
Karena makanan itu sendiri kan banyak ya jenisnya ada yang emang halal bahannya dan halal juga cara menyembelihnya dan memasaknya dan ini yang paling bener. 
Intinya gak perlu khawatir itu haram kalau yang memasak mukmin atau kafir, fasik dan munafik yang amanah itu kan intinya semua diproses secara halal dan kemungkinan label halal mui itu diperlukan dalam konteks ini.
Sebenernya kalau seluruh dunia jujur belum tentu ribet dan dalam islam juga kedudukan jujur ini sangat tinggi karena memang kejujuran ini banyak menimbulkan keberkahan dan juga menurunkan rahmat.
Kita tidak bisa memaksakan derajat dan kedudukan setiap orang tapi kita bisa berlaku jujur.
Kalau kita gak mau pake label halal mui fine tapi informasikan secara jelas dan jujur bagaimana dagingnya atau bahan2nya apakah halal semua? Kalau daging apa disembelih dengan menggunakan syariat Islam karena bisa jadi dagingnya halal tapi kalau tidak disembelih secara syariat islam tentu ini akan jadi haram sehingga informasikan secara bahan dengan makanan berbahan halal tetapi tidak disembelih secara syariat islam itu sudah cukup menggambarkan bahwa bahannya halal tapi penyembelihannya tidak halal. Dan biarkan konsumen memilih mau membeli atau tidak.
Bagaimana cara memasaknya? Informasikan secara benar, bahan berbahan halal  dan disembelih secara syariat islam tetapi alat masaknya tidak dipisah secara khusus.
Bahan berbahan halal disembelih secara syariat islam, alat masak dipisah secara khusus sehingga tidak tercampur dengan makanan haram dan semua bahan2 tambahannya halal.
Walaupun memang jujur secara psikologis memang tetap jauh lebih nyaman memakan makanan dengan label halal MUI karena sudah diperiksa dan yakin itu tidak haram walaupun kadang suka gemes juga dengan mereka yang berbohong dengan menggunakan label halal MUI dan akhirnya apalagi untuk ras tertentu yang suka menyalahgunakan kepercayaan sehingga kerap menimbulkan masalah bikin takut dan was-was karena pernah juga membaca bahwa ada abon sapi dengan label halal MUI tetapi ternyata dari babi. Naudzubillah min zalik kan?
Informasi terbuka itu mencerdaskan dan tidak memaksakan proses seseorang. Di dalam islam itu setiap manusia ada kedudukannya masing-masing apakah mereka kafir/non muslim, muslim, mukmin, fasik dan munafik.

Perbedaan ini bukan untuk saling mengolok tapi saling menghormati proses dan perbedaan masing-masing secara jujur walaupun mungkin yang sulit berkata jujur adalah orang-orang munafik karena khawatir mungkin tidak mendapatkan keuntungan seperti yang mereka harapkan karena dengan berkata jujur sudah pasti mereka yang mukmin tidak mau membeli atau memakan apa yang mereka tawarkan atau jual tetapi kalau seorang fasik atau kafir yang jujur mereka tidak keberatan berkata jujur walaupun mereka tahu apa resikonya tetapi setidaknya mereka bisa dipercaya jika memang mereka menginformasikan sesuatu secara jelas dan jujur.
Kita tidak bisa menghakimi mereka yang mau memakan makanan yang haram atau syubhat atau yang bercampur antara yang haram dan halal selama memang itu pilihan mereka sendiri karena kita tidak bisa memaksakan keimanan dan ketaqwaan seseorang sama halnya kita juga tidak bisa memaksakan mereka yang mukmin untuk memakan makanan yang haram syubhat atau bercampur antara yang halal dan haram karena itu juga hak mereka yang harus dihormati sedangkan yang sering menjadi masalah adalah mereka yang munafik dan membuat sesuatu itu menjadi tidak jelas dan perselisihan karena enggan berkata jujur bahkan cenderung menjebak maka ini yang harus dihindari karena akan ada banyak perselisihan dan juga permusuhan karena merasa dibohongi atau ditipu daya.
"Udah makan aja ini halal yang nyembelih ayah saya sendiri muslim tulen dan jago ngaji." kenyataannya ayahnya itu non muslim, gak bisa ngaji dan gak peduli mana halal dan haram sama saja.
Tentu ini yang tidak boleh dan akan menimbulkan permusuhan dan kebencian apalagi kalau ketahuan dan kalau tidak ketahuan apa jadi boleh?
Jujur itu buat kita sendiri dan bisa jadi orang tidak ada yang tahu tapi kalau ada yang curiga atau tau atau feelingnya gak enak itu kan semua adalah hal-hal yang bisa mengundang mudharat.
Jadi memang kalau tidak ada label halal MUI itu jadi meragukan memang apalagi kalau yang menjual non muslim karena yang muslim saja masih bisa bohong apalagi yang non muslim.
Saya sendiri termasuk yang ingin sesuatu itu diinformasikan secara jujur dan itupun kadang belum tentu percaya penjelasannya.
Karena waktu membeli baso aci yang mengundang selera dan yang jualan memakai nama cina saya menjadi ragu tetapi melihat makanannya mengundang selera dan ketika ditanya semua karyawannya  muslim dan dia sendiri muslim sebentar saya merasa aman tapi anehnya kenapa ragu lagi dan sampai pesanannya datang saya berusaha mencium dan mencocokkan dengan bau yang suka saya cium di supermarket kalau ada yang jual babi dan kenapa itu baunya tidak enak dan mirip seperti itu dan akhirnya saya tidak jadi makan dan hilang selera karena kepala dipenuhi keraguan.
Kejujuran itu mungkin yang memang hampir tidak ada saat ini dan itu sebenarnya yang membuat khawatir karena kebaikan bisa datang dari kejujuran sedangkan kebohongan tidak akan mendatangkan kebaikan apalagi menurunkan rahmat. Wallahu'alam.
Saya pribadi kalau tidak menyusahkan memang sebaiknya menggunakan label halal MUI karena itu lebih mmebuat nyaman dan tenang tetapi bukan untuk dimanipulasi makanannya haram dibilang halal tentu bukan speperti ini tujuannya tetapi untuk memastikan kehalalan makana itu secara detail dan sempurna karena itu tadi halal itu tidak cukup bahannya saja dan untuk daging bagaimana cara menyembelihnya bahkan dan bagaimana memasaknya.
Saya lebih menghargai mereka yang mau mengakui status makanan mereka dengan jujur dan tidak menjebak apalagi menjerumuskan apalagi melakukan tipu daya.
Makanan ini haram. Itu artinya semua mengandung yang haram mulai bahan dan campurannya.
Makanan ini bercampur antara yang halal dan haram
Makanan ini halal tapi dagingnya tidak disembelih secara syariat islam
Makanan ini halal dan dagingnya disembelih secara syariat islam tetapi alat dan tempat masaknya tidak khusus bercampur dengan makanan haram
Halal MUi dan ini tidak perlu penjelasan karena MUI sudah punya standart halal dan pengawsannya dan masyarakat bisa mengadukan mereka yang tidak menjaga keamanahan dan kejujuran dari label ini misal yang menggunakan bahan haram sedangkan sampel yang diberi berbeda atau bisa saja awalnya mereka pake bahan halal dan mengikuti standart halal MUI tetapi kemudian tidak seperti kasus Ajinomoto.
Intinya itu adalah being honest is important maybe its not about money but trust dan kadang trust juga mendatangkan uang juga karena keprcayan itu masalah kenyamanan dan ketentraman dan rasa aman.
Membeli sesuatu dari mereka yang bisa dipercaya ini menimbulkan rasa aman dan nyaman. Percaya gak sih?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM