Logic Thingking
Seringkali masalah itu muncul karena kita meninggalkan logic thingking serta mengedepankan perspektif kita sendiri yang belum tentu benar atau arogansi atau ignored atau abandon atau over condition.
Semua permasalahan tersebut sama karena bahasan itu tidak menyentuh dasar persoalan dan hanya di permukaan saja.
Seperti halnya permasalahan pelajaran agama dan PPKN. Ketika mereka meninggalkan logic thingking maka tentu asumsi yang mereka bangun juga ngawur. Ada 5 agama dan 1 kepercayaan di Indonesia tetapi mereka semua memiliki standart moralitas yang sama maka yang mana yg dilebur agama yang berbeda tersebut atau moralitas yang sama tersebut yang dilebur ke dalam masing-masing agama?
Kalau standart moral sama maka apapun agamanya mereka akan memiliki batasan standart moral yang sama hanya saja mereka berbeda dalam detailnya sesuai agama mereka masing-masing sehingga tidak mungkin mereka bangun rumah ibadah sembarangan, ganggu ibadah orang lain, mengganggu atribut agama orang lain, asusila, amoral, intoleransi seperti yang marak terjadi menjual daging babi sebagai daging sapi ini bukan standart moral yang patut jadi acuan apapun agamanya maka mereka wajib menghargai perbedaan di antara mereka satu sama lain.
Yg muslim tidak boleh melarang non muslim makan babi dan selama mereka jujur dalam menginformasikan maka itu hak mereka maka yang non muslim juga tidak boleh menipu yang muslim atau memaksa mereka makan babi.
Demikian juga dalam hal berpakaian apapun agamanya mereka tidak boleh bertelanjang di tempat umum atau berpakaian nyaris telanjang karena ini sudah termasuk perbuatan asusila atau amoral.
Mengenai mereka memakai hijab, cadar, rok, celana, terusan ini adalah pilihan yang harus dihargai masing-masing orang tetapi apapun agama dan latar belakang mereka harusnya punya standart moralitas yang sama yang proposional karena kalau tidak tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan secara umum sesuatu yang melanggar batas atau berlebihan.
Perbedaan tidak seharusnya memunculkan perbedaan batasan standart minimum karena kalau ini dilanggar artinya ada yang dilegalkan untuk melanggar batas aturan hukum, ketertiban umum, moralitas dan susila.
Ada yang boleh menipu dan tidak. Ada yang boleh asusila dan tidak. Ada yang boleh berlaku zalim dan tidak. Ada yang boleh curang dan tidak. Ada yang boleh arogan dan tidak. Ada yang boleh intoleran dan tidak. Bukan adil dan bijaksana melainkan zalim dan durjana. Musibah bukan anugrah. Neraka bukan surga. Kiamat bukan rahmat. Kekacauan bukan kedamaian. Keburukan bukan kebaikan. Kezaliman bukan keadilan apalagi kebijaksanaan.
Got it.
Semua permasalahan tersebut sama karena bahasan itu tidak menyentuh dasar persoalan dan hanya di permukaan saja.
Seperti halnya permasalahan pelajaran agama dan PPKN. Ketika mereka meninggalkan logic thingking maka tentu asumsi yang mereka bangun juga ngawur. Ada 5 agama dan 1 kepercayaan di Indonesia tetapi mereka semua memiliki standart moralitas yang sama maka yang mana yg dilebur agama yang berbeda tersebut atau moralitas yang sama tersebut yang dilebur ke dalam masing-masing agama?
Kalau standart moral sama maka apapun agamanya mereka akan memiliki batasan standart moral yang sama hanya saja mereka berbeda dalam detailnya sesuai agama mereka masing-masing sehingga tidak mungkin mereka bangun rumah ibadah sembarangan, ganggu ibadah orang lain, mengganggu atribut agama orang lain, asusila, amoral, intoleransi seperti yang marak terjadi menjual daging babi sebagai daging sapi ini bukan standart moral yang patut jadi acuan apapun agamanya maka mereka wajib menghargai perbedaan di antara mereka satu sama lain.
Yg muslim tidak boleh melarang non muslim makan babi dan selama mereka jujur dalam menginformasikan maka itu hak mereka maka yang non muslim juga tidak boleh menipu yang muslim atau memaksa mereka makan babi.
Demikian juga dalam hal berpakaian apapun agamanya mereka tidak boleh bertelanjang di tempat umum atau berpakaian nyaris telanjang karena ini sudah termasuk perbuatan asusila atau amoral.
Mengenai mereka memakai hijab, cadar, rok, celana, terusan ini adalah pilihan yang harus dihargai masing-masing orang tetapi apapun agama dan latar belakang mereka harusnya punya standart moralitas yang sama yang proposional karena kalau tidak tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan secara umum sesuatu yang melanggar batas atau berlebihan.
Perbedaan tidak seharusnya memunculkan perbedaan batasan standart minimum karena kalau ini dilanggar artinya ada yang dilegalkan untuk melanggar batas aturan hukum, ketertiban umum, moralitas dan susila.
Ada yang boleh menipu dan tidak. Ada yang boleh asusila dan tidak. Ada yang boleh berlaku zalim dan tidak. Ada yang boleh curang dan tidak. Ada yang boleh arogan dan tidak. Ada yang boleh intoleran dan tidak. Bukan adil dan bijaksana melainkan zalim dan durjana. Musibah bukan anugrah. Neraka bukan surga. Kiamat bukan rahmat. Kekacauan bukan kedamaian. Keburukan bukan kebaikan. Kezaliman bukan keadilan apalagi kebijaksanaan.
Got it.
Komentar
Posting Komentar