Polarisasi

Polarisasi bukanlah kehidupan politik yang didambakan di negara manapun karena itu artinya perpecahan, fitnah, chaos, kerumitan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik tentu sangat tidak menguntungkan dalam kehidupan dalam bernegara dan berbangsa.
Polarisasi tidak membebaskan satu negara dari satu kesengsaraan dan penderitaan bahkan mereka mengalami semuanya dari berbagai sisi persepsi.
Intoleransi ada tiga macam, intoleransi dalam persepsi Islam, intoleransi dalam persepsi komunis dan intoleransi dalam persepsi nasionalisme.
Begitu juga dalam bidang lain mencakup penjajahan ekonomi, invasi dan islamphobia semua dilihat dari tiga macam persepsi tersebut.
Keburukan dan kejahatannya tetap ada hanya saja pelakunya yang berbeda-beda. Ini konsekuensi dari polarisasi. Rawan politisasi dan pecah belah. Tidak ada keadilan apalagi kebijaksanaan kecuali arogansi dan dominasi.
Berbeda dengan persatuan maka yang mengikat mereka adalah hal-hal yang memang sifatnya fundamental. Toleransi dalam makna sebenarnya karena memang maknanya tidak bias dan semua bisa memahami dan memaknainya dengan baik dan nyata.Tidak dalam konteks yang berlebihan sehingga melanggar toleransi itu sendiri dan juga tidak dalam konteks yang kekurangan sehingga terkesan basa-basi.
Semua diletakkan pada tempatnya dan semua memang merasakan kebebasan dalam beragama dan ibadah mereka melalui prilaku nyata para pemeluk agama dan juga lingkungan sekitar mereka. Tidak saling mengganggu dan benar-benar hidup tepo seliro dalam kedamaian dan toleransi yang nyata tanpa bias.Tanpa arogansi dan dominasi sama sekali.
Setiap pemeluk agama sangat menjaga dan saling menghormati perbedaan di antara mereka dan tidak pernah berusaha untuk saling memanipulasi atau mendominasi. Setiap orang benar-benar dibebaskan untuk memeluk dan menjalankan agama dan peribadahan yang mereka yakini.
Tidak ada kristenisasi, islamisasi, atheisasi dan apapun itu setiap orang selalu berusaha menjaga sesuatu agar memang berlangsung dengan penuh integritas bahkan peribadahan juga rumah ibadah serta pemeluk agama bukan simbol, dominasi maupun arogansi. Rumah ibadah juga berdiri karena memang faktor kebutuhan dan juga memperhatikan ketertiban umum sehingga semua memang berlangsung dan berjalan dengan baik.
Tidak ada jor-joran dalam membangun rumah ibadah dan tidak ada juga penyembahan secara berlebihan terhadap rumah ibadah apalagi yang sudah jelas-jelas tidak diperlukan, mengganggu sekitarnya karena tidak menjadi kebutuhan mereka dan justru mengganggu juga tidak ada pertikaian karena rumah ibadah yang dituhankan melebihi Tuhan itu sendiri.
Begitu juga dengan pemeluk dan peribadahan juga semua berlangsung dengan wajar dan tidak berlebihan. Tidak ada perlombaan atau dominasi atau arogansi dalam peribadahan dan agama karena peribadahan dan agama adalah bentuk kejujuran pemeluknya yang tidak bisa dipamerkan atau diperlombakan apalagi dipaksakan.
Seharusnya setiap rumah ibadah memang berisi oleh hati-hati yang bersih dari sifat-sifat jahat dan aniaya. Jalan yang berbeda tidak seharusnya menimbulkan polarisasi dalam pemaknaan akan ketulusan dan kebersihan itu sendiri.
Tuhan sendiri tidak pernah memaksakan hamba-hambaNya untuk beriman. Mereka diminta untuk saling menghormati dan menghargai dan tetap tulus dalam memaknai kebaikan dan kebenaran itu sendiri.
Esktrimis merasa mereka yang paling benar dan disayang walaupun seringkali perbuatan-perbuatan mereka tidak menunjukkan demikian. Ekstrimis ini tidak selalu bermaksa islam saja tetapi juga komunis dan nasionalisme. Ekstrimisme akan selalu membawa pada polirisasi karena memang hal itu tidak sesuai dengan kemanusiaan dan ham.
Sikap yang benar akan membawa pada akibat yang benar juga. Harmonisasi terkalin bukan karena basa basi atau arogansi tetapi memang karena hal itu memang sudah seharusnya berlaku seperti itu.
Tuhan akan menurunkan rahmat ketika suatu penduduk beriman dalam artian mereka tidak mengkhianati kebenaran dan kebaikan itu sendiri. Kasarnya tidak melakukan polarisasi karena kita semua paham yang haq itu dari Allah sedangkan yang batil dari manusia dan apa jadinya ketika kebatilan dimintakan legalisasinya untuk diakui sebagai yang haq?
Think hard and answer simply....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM