RUU Haluan Ideologi Pancasila
Kalau kita menilik pasal 7 RUU HIP disebutkan tentang ciri pokok Pancasila trisila yaitu sosio nasionalisme, sosio demokrasi dan ketuhanan yang berkebudayaan seperti ada ketakutan bahwa nasionalisme, demokrasi, kepercayaan dan budaya tidak mendapatkan tempat di NKRI.
Hal ini tentu sangat berlebihan karena sila pertama Ketuhanan YME itu sendiri tidak hanya mencakup semua agama tetapi juga kepercayaan yang juga percaya pada Tuhan YME walaupun tidak memiliki syariat dan ibadah agama dan hanya berdasarkan keyakinanpun ini diakui sedangkan budaya sendiri selama tidak ada unsur kesyirikan dan kemubaziran tentu wajar saja tertolak karena ini kan pembodohan contohnya adalah seperti menceburkan kepala kerbau sedangkan kalau misal pertunjukan-pertunjukan keagamaan seperti ngaben, penguburan mayat di toraja, tarian-tarian keagamaan di Bali tentu ini bukan termasuk yang dilarang karena bagian dari kegiatan agama tetapi praktek leak yang membahayakan masyarakat itu sendiri atau sekte-sekte atau tarian-tarian telanjang tentu ini tidak termasuk yang diakui karena melanggar moralitas dan bukan dari agama melainkan budaya yang merusak masyarakat kalau yang dimaksudkan pemaknaan berketuhanan berkebudayaan adalah ritual-ritual yang mengarah pada sekterian, nudisme dan kesyirikan dimana di cina sendiri juga ada nenek dihukum karena menceburkan cucunya ke sumur karena dipercaya membawa sial dan si cucu meninggal. Tentu hal-hal seperti ini tidak termasuk yang dimaksudkan dalam Pancasila sedangkan kalau masalah sesajen, dupa dan lain sebagainya ini tidak termasuk ke dalam peribadahan sekterian sehingga tentu harus lebih proposional.
Ada kekhawatiran juga demokrasi tidak diakui dan tentu ini kan harus jelas yang mana yang tidak diakui tersebut karena seringkali pemaknaan demokrasi ini disalahgunakan begitu juga dengan nasionalisme kenapa masih memiliki ketakutan padahal seharusnya Pancasila dan Sumpah Pemuda sudah selesai membahas mengenai hal ini.
Apa sebenarnya ketakutan-ketakutan itu karena kalau ekstrimisme atau ISIS tentu tidak ada satupun yang mendukung apalagi kezaliman-kezaliman berkedok agamapun nabi sudah memperingatkan agar tidak mengkhianati nabi dalam kebaikan dan segala sesuatu itu ada tahapan, derajat dan jalan keluarnya.
Contoh saja poligami kalau ada kekhawatiran akan diwajibkan dalam islam sendiri tidak wajib. Dalam islam sendiri ada alternatif berdasakan ketaqwaan dan derajat keislaman seseorang.
Poligami tidak berdiri sendiri ada monogami dan ada perceraian dan ini membuktikan semua ada solusinya.
Masalah auratpun ada solusinya karena kalau misal ada seseorang yang tidak terdidik atau bermaksiat sehingga mengabaikan nilai agama dan susila tentu itu bukan jadi alasan untuk tidak berpaling tetapi dengan majunya pendidikan dan wawasan tentu seharusnya akan tercermin dari cara mereka bertingkah laku termasuk pakaian. Bahkan di kalangan tertentu pun ada aturan berpakaian membedakan mana mereka yang memang kalangan terdidik dan tidak.
Ketika membahas sesuatu maka tentu harus lebih terbuka dalam hal detail ini seperti apa.
Misal transgender ini juga kan ada tahapannya termasuk mereka yang LGBT ini adalah semua termasuk kaum dibenci tetapi bukan berarti boleh berlaku zalim dan tidak adil terhadap mereka.
Semua ada konteks, sikon dan pertimbangan logis dan kebijaksanaannya.
Hal ini tentu sangat berlebihan karena sila pertama Ketuhanan YME itu sendiri tidak hanya mencakup semua agama tetapi juga kepercayaan yang juga percaya pada Tuhan YME walaupun tidak memiliki syariat dan ibadah agama dan hanya berdasarkan keyakinanpun ini diakui sedangkan budaya sendiri selama tidak ada unsur kesyirikan dan kemubaziran tentu wajar saja tertolak karena ini kan pembodohan contohnya adalah seperti menceburkan kepala kerbau sedangkan kalau misal pertunjukan-pertunjukan keagamaan seperti ngaben, penguburan mayat di toraja, tarian-tarian keagamaan di Bali tentu ini bukan termasuk yang dilarang karena bagian dari kegiatan agama tetapi praktek leak yang membahayakan masyarakat itu sendiri atau sekte-sekte atau tarian-tarian telanjang tentu ini tidak termasuk yang diakui karena melanggar moralitas dan bukan dari agama melainkan budaya yang merusak masyarakat kalau yang dimaksudkan pemaknaan berketuhanan berkebudayaan adalah ritual-ritual yang mengarah pada sekterian, nudisme dan kesyirikan dimana di cina sendiri juga ada nenek dihukum karena menceburkan cucunya ke sumur karena dipercaya membawa sial dan si cucu meninggal. Tentu hal-hal seperti ini tidak termasuk yang dimaksudkan dalam Pancasila sedangkan kalau masalah sesajen, dupa dan lain sebagainya ini tidak termasuk ke dalam peribadahan sekterian sehingga tentu harus lebih proposional.
Ada kekhawatiran juga demokrasi tidak diakui dan tentu ini kan harus jelas yang mana yang tidak diakui tersebut karena seringkali pemaknaan demokrasi ini disalahgunakan begitu juga dengan nasionalisme kenapa masih memiliki ketakutan padahal seharusnya Pancasila dan Sumpah Pemuda sudah selesai membahas mengenai hal ini.
Apa sebenarnya ketakutan-ketakutan itu karena kalau ekstrimisme atau ISIS tentu tidak ada satupun yang mendukung apalagi kezaliman-kezaliman berkedok agamapun nabi sudah memperingatkan agar tidak mengkhianati nabi dalam kebaikan dan segala sesuatu itu ada tahapan, derajat dan jalan keluarnya.
Contoh saja poligami kalau ada kekhawatiran akan diwajibkan dalam islam sendiri tidak wajib. Dalam islam sendiri ada alternatif berdasakan ketaqwaan dan derajat keislaman seseorang.
Poligami tidak berdiri sendiri ada monogami dan ada perceraian dan ini membuktikan semua ada solusinya.
Masalah auratpun ada solusinya karena kalau misal ada seseorang yang tidak terdidik atau bermaksiat sehingga mengabaikan nilai agama dan susila tentu itu bukan jadi alasan untuk tidak berpaling tetapi dengan majunya pendidikan dan wawasan tentu seharusnya akan tercermin dari cara mereka bertingkah laku termasuk pakaian. Bahkan di kalangan tertentu pun ada aturan berpakaian membedakan mana mereka yang memang kalangan terdidik dan tidak.
Ketika membahas sesuatu maka tentu harus lebih terbuka dalam hal detail ini seperti apa.
Misal transgender ini juga kan ada tahapannya termasuk mereka yang LGBT ini adalah semua termasuk kaum dibenci tetapi bukan berarti boleh berlaku zalim dan tidak adil terhadap mereka.
Semua ada konteks, sikon dan pertimbangan logis dan kebijaksanaannya.
Komentar
Posting Komentar