Etika

Etika diperlukan ketika kita berinteraksi. Kalau dalam agama etika ini dinamakan akhlak. Tanpa akhlak maka tentu sesuatu tidak akan bisa berlaku dengan baik dan seharusnya.

Ambil contoh sederhana ketika nabi menemui sahabat-sahabatnya di kamar tidurnya. Maka jika yang datang Abu Bakar maka nabi akan tetap berbaring di tempat tidurnya sedangkan kalau Umar yang datang  maka nabi akan duduk di tempat tidurnya sedangkan   kalau Utsman yang akan menemui beliau maka nabi akan merapikan letak selimutnya dan menutupi tubuhnya dengan lebih teliti karena Utsman seorang yang pemalu. Mengapa nabi melakukan hal ini? Apakah nabi plin plan?

Nabi tidak ingin menimbulkan perasaan tidak nyaman atau risih menyesuaikan dengan karakter dengan siapa nabi berhadapan.

Saat ini banyak hal tentang akhlak ini hilang sehingga orang seringkali berlaku seenaknya pada orang lain dan tidak memahami karakter orang lain yang berinteraksi dengan mereka bahkan seringkali mereka memanfaatkan karakter tersebut untuk kepentingan mereka tentu ini adalah sikap yang tidak baik dan bisa menimbulkan masalah serta ketidaknyamanan.

Akhlak ini tanda kemuliaan dan keutamaan seseorang. Dengan akhlak juga banyak hal bisa diselesaikan dengan baik.

Jika kita melihat ada satu permasalahan yang jadi kompleks atau laten dikarenakan ketiadaan akhlak sehingga membuat masalah tersebut menjadi rumit dan tidak terselesaikan.

Akhlak kalau ada yang sulit kenapa harus dimudahkan. Jelas ini akan menimbulkan masalah. 

Akhlak menyamaratakan karakter orang ini juga akan menimbulkan masalah karena seharusnya orang dilakukan berbeda sesuai dengan kenyamanannya dengan memberikan mereka beragam pilihan yang sesuai dengan kenyamanan dan kemudahan mereka karena kedua hal ini bisa jadi sangat berbeda untuk setiap orang maknanya.

Akhlak bersikap baik untuk mencari-cari kesalahan atau menimpakan fitnah pada seseorang ini juga bukan sikap yang baik.

Bersikap baik menyembunyikan kebencian atau dalam rangka memata-matai tentu ini juga bukan sikap baik. Apalagi akhlak ingin menimpakan fitnah dan mudhorot pada orang lain dan supaya orang tidak mencurigainya dibungkus dengan perbuatan baik.

Semua hal ini bisa saja luput dari pandangan manusia tetapi tidak bisa luput dari pengawasan Allah sehingga jangan salah ketika kita merasa kita sudah berbuat baik dan mulia tetapi ternyata di sisi Allah adalah seorang yang zalim. Naudzubillah min zalik. Karena penilaian yang valid bukan dari sisi manusia melainkan Allah.

Akhlak dalam perburuhan, lingkungan dan tata ruang sekarang ini sangat krisis dan bisa menimbulkan masalah.

Akhlak pemerintah dan masyarakat dalam hal mengatur dan diatur ini juga kalau tidak dalam porsinya akan jadi masalah. 

Arogansi dan manipulasi bukannya akhlak apalagi solusi justru manusia akan banyak menuai masalah karena kedua hal ini. Sebagaimana Umar berkata kepada penduduk Mekkah bahwa Umar tidak dapat melakukan semuanya dengan baik dan benar kalau tidak didukung oleh penduduk Mekkah sendiri sehingga kelurusan itu tidak hanya ada di tangan pemimpin tetapi juga penduduknya.

Pemimpin tidak boleh arogan sedangkan penduduk juga tidak boleh memanipulasi. Kebijaksanaan itu harus ada sebagaimana Umar ketika masa paceklik membebaskan hukuman potong tangan karena banyak masyakarat dilanda kelaparan dan mereka terpaksa harus mencuri agar bisa memenuhi kebutuhan pangannya tetapi tentu pencurian yang mereka lakukan bukanlah pencurian untuk memperkaya diri dengan cara batil atau hidup bermewah-mewahan.

Akhlak dalam penanganan covid hal ini juga jadi masalah kalau tidak memiliki akhlak atau rasa malu. Ambil contoh rumah sakit yang mengincar dana covid sehingga semua pasiennya diperlakukan seperti jenasah covid apa ini tidak menimbulkan masalah?

Kita lihat masalah perburuhan. Mereka yang memiliki masalah karena tidak adanya akhlak antara keduanya sehingga menimbulkan sengketa tetapi kalau kedua pihak memiliki akhlak apakah ada masalah?

Majikannya memperlakukan buruh dengan baik dan buruh juga melaksanakan kewajibannya dengan baik tetapi kalau Majikannya tidak memperlakukan buruhnya dengan baik dan memenuhi hak mereka dengan baik walaupun buruhnya sudah melakukan kewajiban mereka dengan baik tentu ini akan jadi masalah karena salah satu pihak sudah menzolimi pihak lain.

Kalau majikannya sudah memenuhi kewajibannya dan memperlakukan buruh dengan baik tapi buruhnya enggan memenuhi kewajiban mereka dengan baik maka ini juga akan jadi masalah karena giliran majikannya yang dizolimi buruhnya.

Begitu juga masalah pungli dan korupsi ketika seseorang menempuh jalan yang tidak baik untuk menambah kekayaan atau menambal kebutuhannya tentu hal ini bisa menimbulkan kehinaan karena dilakukan dengan cara yang tidak baik apakah dengan menipu, manipulasi atau korupsi.

Perbuatan membalas air susu dengan air tuba ini juga bisa menimbulkan masalah dan fitnah. Orang sudah berbuat baik tapi dibalas dengan kejahatan. Ini juga bisa menjadi masalah. Kebaikan seseorang dimanfaatkan untuk menimpakan yang bersangkutan ke dalam kesulitan dan fitnah.

Force majeur ini adalah keadaan di luar kapasitas yang bersangkutan apakah karena musibah masal seperti covid atau pailit atau musibah lainnya seperti bencana alam atau peristiwa yang menghabiskan harta benda.

Penipuan, pencurian, berbohong dan penyesataan ini juga dilarang karena hal ini juga bisa menimbulkan masalah. Sehingga jelas sebagian besar musibah dan masalah karena perbuatan siapa?

Manusia atau Allah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Awam

Seandainya

SDM